Sidrap Kendalikan Harga Telur KTI
Eby | www.fajar.co.id | Selasa, 20 Nopember 2012
SIDRAP, SULSEL
- Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) tak hanya menjadi lumbung
pangan Sulsel. Daerah yang berada di kawasan Ajatappareng ini adalah
pengendali harga telur di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Potensi ternak ayam ras
(petelur) di Sidrap, tidak terbantahkan. Populasi ternak ayam daerah ini
terbesar di Sulsel, mencapai 3,480 juta ekor. Data Dinas Peternakan dan
Perikanan (Disnakkan), produksi telur ayam ras di daerah ini mencapai
1,680 juta butir per hari, atau setara 56 ribu rak per bulan. Dengan
harga kisaran Rp22 ribu per rak, peternak bisa memeroleh pendapatan
sekira Rp36 milar per bulan.
Kepala Disnakkan Sidrap, Ir
H Abdul Aziz MM, Senin, 19 November, mengatakan, jumlah rumah tangga
peternak yang ada di daerah ini mencapai 1.336 KK, dengan serapan tenaga
kerja langsung sebanyak 1.740 orang dan tenaga kerja tidak langsung
sekitar 348 orang.
Abdul Azis menambahkan,
total tenaga kerja yang terserap dalam industri peternakan secara
keseluruhan di Sidrap sebanyak 2.088 orang yang tersebar di 11
kecamatan.
"Sebenarnya paling banyak
di Desa Allakuang, menyusul Desa Tanete, Kecamatan Maritengngae serta
beberapa area peternakan di kecamatan lainnya," katanya.
Dari sisi perputaran uang
atau potensi ekonomi, bisnis peternakan ayam ras ini, kata Abdul Azis,
cukup menggiurkan. "Pendapatan bisa saja mencapai Rp79 miliar setiap
hari. Ini jika sudah dikalkulasi pengeluaran sarana produksi, harga
telur serta upah tenaga kerja," ungkapnya.
Tingginya populasi ayam ras
di Sidrap, kata Abdul Azis, menempatkan Sidrap sebagai pematok harga
telur ayam ras di Sulsel, bahkan di Indonesia bagian timur. "Menjadi
ketentuan, pedagang telur di daerah lain bertanya dulu berapa harga
telur di Sidrap, lalu bisa menetapkan harga di daerahnya masing-masing,"
ujarnya.
Abdul Azis menggambarkan,
populasi ayam ras di Sidrap terbagi atas tiga golongan yakni, starter,
grower, dan layer. Untuk starter dengan umur 1 hari sampai dengan 10
minggu sebanyak 520 ribu ekor, grower kisaran di atas 10 hingga 18
minggu 560 ribu ekor, dan layer umur di atas 18 minggu sampai akhir
mencapai 2.400 juta ekor.
Dikatakannya, kebutuhan
pakan dalam setiap bulannya, bisa mencapai 10,842 ton. Untuk golongan
starter misalnya, butuh 702 ton, grower 450 ton, layer 2,580 ton, jagung
4,050 ton, dan dedak 3,060 ton.
Sedangkan kebutuhan dana
yang diperlukan untuk membiayai produksi peternakan sebanyak 3,480 juta
ekor populasi perbulannya di Sidrap bisa mencapai Rp44,066 miliar. "Ini
sudah termasuk pakan sepeti jagung, dedak, biaya pembelian rak upah
tenaga kerja serta pembelian obat dan vaksin serta bahan kimia lainnya,"
ujarnya.
Iwan, 34 tahun, salah
seorang pengusaha telur di Pangkajene, mengatakan, selain dijual dalam
skala lokal, rata-rata telur ayam ras asal Sidrap dibawa ke luar daerah,
semisal Parepare, Makassar, Palu, Kolaka, Manado, Samarinda, Balikpapan
dan Ambon," tutur Iwan....... copyred http://ews.kemendag.go.id/berita/NewsDetail.aspx?v_berita=3260

Tidak ada komentar:
Posting Komentar