Kamis, 12 Nopember 2015
Krisis Jagung, Peternak Ayam Minta Pasokan Ditambah (Impor)
Musbar, yang juga Bendahara Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menguraikan kebutuhan jagung peternak layer self mixing 300.000 ton/bln atau 3,6 juta ton/th. Dengan asumsi porsi jagung mencapai 20% dari komposisi ransum ayam, angka itu setara 7,2 juta ton/th pakan jadi.
“Otomatis kelangkaan jagung ini membuat peternak layer nasional berada dalam jurang kehancuran. Karena, kemana kami harus mencari jagung 480.000 ton lagi untuk bertahan sampai Desember 2015,” ungkap Musbar pada pertemuan Forum PLN dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kemenko Perekonomian (11/11) petang.
Menanggapi keresahan FPLN, Darmin menyatakan sudah memerintahkan Dirjen Bea Cukai untuk melepaskan 9 kapal yang mengangkut jagung milik GPMT (Asosiasi Produsen pakan Indonesia). “Barang itu paling cukup hanya sampai awal Desember 2015,” ungkapnya.
Darmin pun mempersilahkan untuk segera mengajukan kebutuhan impor jagung ke Kementerian Perdagangan. Pengajuan itu, kata dia, tidak perlu dilampiri SPP atau rekomendasi lagi dari Kementerian Pertanian untuk mengatasi segera kelangkaan jagung.
Hartono, ketua Dewan Pembina PINSAR Indonesia menjelaskan dengan produksi telur nasional 7.800 ton/hari maka kelangkaan jagung yang merupakan bahan pakan pokok ayam petelur ini akan mempengaruhi suplai telur serta menaikan inflasi. “Satu-satunya jalan pilihan masa kritis ini adalah import,” tandasnya.
Mendengar keluh kesah peternak layer itu, Darmin menyatakan tidak ingin mempertaruhkan suplai 7.800 ton telur perhari. “Dimungkinkan ada mekanisme utk import bagi kebutuhan jagung peternak layer,” kata Darmin disambut gempita peternak. Setidaknya, angin segar telah telah dihembuskan oleh seorang Menko, petang itu. Istimewa / Nuruddin
jagung di solo sudah habis stoknya...byk pabrik pakan gak ada jagung
BalasHapus