Minggu, 22 November 2015

Krisis Jagung, Peternak Ayam Minta Pasokan Ditambah (Impor)

Krisis Jagung, Peternak Ayam Minta Pasokan Ditambah (Impor)


Jakarta (TROBOS.COM). Peternak layer nasional kesulitan mendapat jagung yg merupakan bahan pokok pakan ayam petelur periode produksi. Koordinator Forum Peternak Layer Nasional (FPLN) Musbar  menyatakan, harga jagung dipeternak saat ini hampir Rp 5.000/kg.  “Itu pun tidak ada barang,” tegasnya memelas. Menurut dia posisi ini sangat kritis bagi peternak layer (ayam petelur) yang biasa membuat campuran pakan sendiri (self mixing).

Musbar, yang juga Bendahara Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menguraikan kebutuhan jagung peternak layer self mixing  300.000 ton/bln atau 3,6 juta ton/th. Dengan asumsi porsi jagung mencapai 20% dari komposisi ransum ayam, angka itu setara 7,2 juta ton/th pakan jadi.

“Otomatis kelangkaan jagung ini membuat peternak layer nasional berada dalam jurang kehancuran. Karena, kemana kami harus mencari jagung 480.000 ton lagi untuk bertahan sampai Desember 2015,” ungkap Musbar pada pertemuan Forum PLN dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kemenko Perekonomian (11/11) petang.

Menanggapi keresahan FPLN, Darmin menyatakan sudah  memerintahkan Dirjen Bea Cukai untuk melepaskan 9 kapal yang mengangkut jagung  milik GPMT (Asosiasi Produsen pakan Indonesia). “Barang itu paling cukup hanya sampai awal Desember 2015,” ungkapnya.

Darmin pun mempersilahkan untuk segera mengajukan kebutuhan impor jagung ke Kementerian Perdagangan. Pengajuan itu, kata dia, tidak perlu dilampiri SPP atau rekomendasi lagi dari Kementerian Pertanian untuk mengatasi segera kelangkaan jagung.

Hartono,  ketua Dewan Pembina PINSAR Indonesia menjelaskan dengan produksi telur nasional 7.800 ton/hari maka kelangkaan jagung yang merupakan bahan pakan pokok ayam petelur ini  akan mempengaruhi suplai telur serta menaikan inflasi. “Satu-satunya jalan pilihan masa kritis ini adalah import,” tandasnya.

Mendengar keluh kesah peternak layer itu, Darmin menyatakan tidak ingin mempertaruhkan suplai 7.800 ton telur perhari. “Dimungkinkan ada mekanisme utk import bagi kebutuhan jagung peternak layer,” kata Darmin disambut gempita peternak. Setidaknya, angin segar telah telah dihembuskan oleh seorang Menko, petang itu. Istimewa / Nuruddin

Krisis Jagung, Peternak Ayam Minta Pasokan Ditambah (Impor)


Kamis, 12 Nopember 2015
Krisis Jagung, Peternak Ayam Minta Pasokan Ditambah (Impor)


Jakarta (TROBOS.COM). Peternak layer nasional kesulitan mendapat jagung yg merupakan bahan pokok pakan ayam petelur periode produksi. Koordinator Forum Peternak Layer Nasional (FPLN) Musbar  menyatakan, harga jagung dipeternak saat ini hampir Rp 5.000/kg.  “Itu pun tidak ada barang,” tegasnya memelas. Menurut dia posisi ini sangat kritis bagi peternak layer (ayam petelur) yang biasa membuat campuran pakan sendiri (self mixing).

Musbar, yang juga Bendahara Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menguraikan kebutuhan jagung peternak layer self mixing  300.000 ton/bln atau 3,6 juta ton/th. Dengan asumsi porsi jagung mencapai 20% dari komposisi ransum ayam, angka itu setara 7,2 juta ton/th pakan jadi.

“Otomatis kelangkaan jagung ini membuat peternak layer nasional berada dalam jurang kehancuran. Karena, kemana kami harus mencari jagung 480.000 ton lagi untuk bertahan sampai Desember 2015,” ungkap Musbar pada pertemuan Forum PLN dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kemenko Perekonomian (11/11) petang.

Menanggapi keresahan FPLN, Darmin menyatakan sudah  memerintahkan Dirjen Bea Cukai untuk melepaskan 9 kapal yang mengangkut jagung  milik GPMT (Asosiasi Produsen pakan Indonesia). “Barang itu paling cukup hanya sampai awal Desember 2015,” ungkapnya.

Darmin pun mempersilahkan untuk segera mengajukan kebutuhan impor jagung ke Kementerian Perdagangan. Pengajuan itu, kata dia, tidak perlu dilampiri SPP atau rekomendasi lagi dari Kementerian Pertanian untuk mengatasi segera kelangkaan jagung.

Hartono,  ketua Dewan Pembina PINSAR Indonesia menjelaskan dengan produksi telur nasional 7.800 ton/hari maka kelangkaan jagung yang merupakan bahan pakan pokok ayam petelur ini  akan mempengaruhi suplai telur serta menaikan inflasi. “Satu-satunya jalan pilihan masa kritis ini adalah import,” tandasnya.

Mendengar keluh kesah peternak layer itu, Darmin menyatakan tidak ingin mempertaruhkan suplai 7.800 ton telur perhari. “Dimungkinkan ada mekanisme utk import bagi kebutuhan jagung peternak layer,” kata Darmin disambut gempita peternak. Setidaknya, angin segar telah telah dihembuskan oleh seorang Menko, petang itu. Istimewa / Nuruddin

Kamis, 12 Nopember 2015
Krisis Jagung, Peternak Ayam Minta Pasokan Ditambah (Impor)


Jakarta (TROBOS.COM). Peternak layer nasional kesulitan mendapat jagung yg merupakan bahan pokok pakan ayam petelur periode produksi. Koordinator Forum Peternak Layer Nasional (FPLN) Musbar  menyatakan, harga jagung dipeternak saat ini hampir Rp 5.000/kg.  “Itu pun tidak ada barang,” tegasnya memelas. Menurut dia posisi ini sangat kritis bagi peternak layer (ayam petelur) yang biasa membuat campuran pakan sendiri (self mixing).

Musbar, yang juga Bendahara Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menguraikan kebutuhan jagung peternak layer self mixing  300.000 ton/bln atau 3,6 juta ton/th. Dengan asumsi porsi jagung mencapai 20% dari komposisi ransum ayam, angka itu setara 7,2 juta ton/th pakan jadi.

“Otomatis kelangkaan jagung ini membuat peternak layer nasional berada dalam jurang kehancuran. Karena, kemana kami harus mencari jagung 480.000 ton lagi untuk bertahan sampai Desember 2015,” ungkap Musbar pada pertemuan Forum PLN dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kemenko Perekonomian (11/11) petang.

Menanggapi keresahan FPLN, Darmin menyatakan sudah  memerintahkan Dirjen Bea Cukai untuk melepaskan 9 kapal yang mengangkut jagung  milik GPMT (Asosiasi Produsen pakan Indonesia). “Barang itu paling cukup hanya sampai awal Desember 2015,” ungkapnya.

Darmin pun mempersilahkan untuk segera mengajukan kebutuhan impor jagung ke Kementerian Perdagangan. Pengajuan itu, kata dia, tidak perlu dilampiri SPP atau rekomendasi lagi dari Kementerian Pertanian untuk mengatasi segera kelangkaan jagung.

Hartono,  ketua Dewan Pembina PINSAR Indonesia menjelaskan dengan produksi telur nasional 7.800 ton/hari maka kelangkaan jagung yang merupakan bahan pakan pokok ayam petelur ini  akan mempengaruhi suplai telur serta menaikan inflasi. “Satu-satunya jalan pilihan masa kritis ini adalah import,” tandasnya.

Mendengar keluh kesah peternak layer itu, Darmin menyatakan tidak ingin mempertaruhkan suplai 7.800 ton telur perhari. “Dimungkinkan ada mekanisme utk import bagi kebutuhan jagung peternak layer,” kata Darmin disambut gempita peternak. Setidaknya, angin segar telah telah dihembuskan oleh seorang Menko, petang itu. Istimewa / Nuruddin

KRISIS JAGUNG..... kemana kami harus CARI.....


Kamis, 12 Nopember 2015
Krisis Jagung, Peternak Ayam Minta Pasokan Ditambah (Impor)


Jakarta (TROBOS.COM). Peternak layer nasional kesulitan mendapat jagung yg merupakan bahan pokok pakan ayam petelur periode produksi. Koordinator Forum Peternak Layer Nasional (FPLN) Musbar  menyatakan, harga jagung dipeternak saat ini hampir Rp 5.000/kg.  “Itu pun tidak ada barang,” tegasnya memelas. Menurut dia posisi ini sangat kritis bagi peternak layer (ayam petelur) yang biasa membuat campuran pakan sendiri (self mixing).

Musbar, yang juga Bendahara Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menguraikan kebutuhan jagung peternak layer self mixing  300.000 ton/bln atau 3,6 juta ton/th. Dengan asumsi porsi jagung mencapai 20% dari komposisi ransum ayam, angka itu setara 7,2 juta ton/th pakan jadi.

“Otomatis kelangkaan jagung ini membuat peternak layer nasional berada dalam jurang kehancuran. Karena, kemana kami harus mencari jagung 480.000 ton lagi untuk bertahan sampai Desember 2015,” ungkap Musbar pada pertemuan Forum PLN dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kemenko Perekonomian (11/11) petang.

Menanggapi keresahan FPLN, Darmin menyatakan sudah  memerintahkan Dirjen Bea Cukai untuk melepaskan 9 kapal yang mengangkut jagung  milik GPMT (Asosiasi Produsen pakan Indonesia). “Barang itu paling cukup hanya sampai awal Desember 2015,” ungkapnya.

Darmin pun mempersilahkan untuk segera mengajukan kebutuhan impor jagung ke Kementerian Perdagangan. Pengajuan itu, kata dia, tidak perlu dilampiri SPP atau rekomendasi lagi dari Kementerian Pertanian untuk mengatasi segera kelangkaan jagung.

Hartono,  ketua Dewan Pembina PINSAR Indonesia menjelaskan dengan produksi telur nasional 7.800 ton/hari maka kelangkaan jagung yang merupakan bahan pakan pokok ayam petelur ini  akan mempengaruhi suplai telur serta menaikan inflasi. “Satu-satunya jalan pilihan masa kritis ini adalah import,” tandasnya.

Mendengar keluh kesah peternak layer itu, Darmin menyatakan tidak ingin mempertaruhkan suplai 7.800 ton telur perhari. “Dimungkinkan ada mekanisme utk import bagi kebutuhan jagung peternak layer,” kata Darmin disambut gempita peternak. Setidaknya, angin segar telah telah dihembuskan oleh seorang Menko, petang itu. Istimewa / Nuruddin

Minggu, 15 November 2015

Sidrap Kendalikan Harga Telur KTI

Sidrap Kendalikan Harga Telur KTI

Eby  |  www.fajar.co.id  |  Selasa, 20 Nopember 2012
SIDRAP, SULSEL - Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap)  tak hanya menjadi lumbung pangan Sulsel. Daerah yang berada di kawasan Ajatappareng ini adalah pengendali harga telur di Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

Potensi ternak ayam ras (petelur) di Sidrap, tidak terbantahkan. Populasi ternak ayam daerah ini terbesar di Sulsel, mencapai 3,480 juta ekor. Data Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), produksi telur ayam ras di daerah ini mencapai 1,680 juta butir per hari, atau setara 56 ribu rak per bulan. Dengan harga kisaran Rp22 ribu per rak, peternak bisa memeroleh pendapatan sekira Rp36 milar per bulan.

Kepala Disnakkan Sidrap, Ir H Abdul Aziz MM, Senin, 19 November, mengatakan, jumlah rumah tangga peternak yang ada di daerah ini mencapai 1.336 KK, dengan serapan tenaga kerja langsung sebanyak 1.740 orang dan tenaga kerja tidak langsung sekitar 348 orang. 

Abdul Azis menambahkan, total tenaga kerja yang terserap dalam industri peternakan secara keseluruhan di Sidrap sebanyak 2.088 orang yang tersebar di 11 kecamatan.

"Sebenarnya paling banyak di Desa Allakuang, menyusul Desa Tanete, Kecamatan Maritengngae serta beberapa area peternakan di kecamatan lainnya," katanya.

Dari sisi perputaran uang atau potensi ekonomi, bisnis peternakan ayam ras ini, kata Abdul Azis, cukup menggiurkan. "Pendapatan bisa saja mencapai Rp79 miliar setiap hari. Ini jika sudah dikalkulasi pengeluaran sarana produksi, harga telur serta upah tenaga kerja," ungkapnya.

Tingginya populasi ayam ras di Sidrap, kata Abdul Azis, menempatkan Sidrap sebagai pematok harga telur ayam ras di Sulsel, bahkan di Indonesia bagian timur. "Menjadi ketentuan, pedagang telur di daerah lain bertanya dulu berapa harga telur di Sidrap, lalu bisa menetapkan harga di daerahnya masing-masing," ujarnya.

Abdul Azis menggambarkan, populasi ayam ras di Sidrap terbagi atas tiga golongan yakni, starter, grower, dan layer. Untuk starter dengan umur 1 hari sampai dengan 10 minggu sebanyak 520 ribu ekor, grower kisaran di atas 10 hingga 18 minggu 560 ribu ekor, dan layer umur di atas 18 minggu sampai akhir mencapai 2.400 juta ekor.

Dikatakannya, kebutuhan pakan dalam setiap bulannya, bisa mencapai 10,842 ton. Untuk golongan starter misalnya, butuh 702 ton, grower 450 ton, layer 2,580 ton, jagung 4,050 ton, dan dedak 3,060 ton.

Sedangkan kebutuhan dana yang diperlukan untuk membiayai produksi peternakan sebanyak 3,480 juta ekor populasi perbulannya di Sidrap bisa mencapai Rp44,066 miliar. "Ini sudah termasuk pakan sepeti jagung, dedak, biaya pembelian rak upah tenaga kerja serta pembelian obat dan vaksin serta bahan kimia lainnya," ujarnya.

Iwan, 34 tahun, salah seorang pengusaha telur di Pangkajene, mengatakan, selain dijual dalam skala lokal, rata-rata telur ayam ras asal Sidrap dibawa ke luar daerah, semisal Parepare, Makassar, Palu, Kolaka, Manado, Samarinda, Balikpapan dan Ambon," tutur Iwan....... copyred http://ews.kemendag.go.id/berita/NewsDetail.aspx?v_berita=3260

Pages - Menu

cahaya mario

Sidebar - Description

cahaya mario