|
Optimalkan Program Kesehatan Unggas,
Investasi Aman.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan produk peternakan khususnya
daging ayam sangat tinggi dan hal ini menyebabkan penggunaan obat-obatan
untuk pencegahan dan perawatan/perlakuan terhadap penyakit ayam menjadi
semakin penting agar daging dapat diproduksi secara efisien. Untuk
mempertahankan efisiensi produksi ayam pedaging disatu sisi dan
menyediakan produk peternakan yang aman untuk dikonsumsi, perlu
diusahakan alternatif penggunaan antibiotik atau probiotik dalam
industri perunggasan.
Didalam budidaya perunggasan faktor penyebaran penyakit pada unggas
dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Karena itu pengawasan yang
ketat perlu dilakukan dan perlu juga perhatian yang lebih jika ayam
yang dipelihara terinfeksi suatu penyakit. Beberapa pertimbangan yang
perlu diperhatikan seperti: umur ayam yang terinfeksi penyakit, tingkat
morbiditas, jenis antibiotik dan dosis antibiotik yang akan digunakan
untuk mengobati ayam yang sakit, semuanya ini merupakan hal yang sangat
penting dan harus diketahui oleh seorang peternak.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian antibiotik, vaksin, dan probiotik pada ayam :
konsumsi pakan (consumtion), pertambahan berat badan (average
daily gain/ADG), Umur (age), dan kematian (mortilitas) dari keempat
variable tersebut akan dapat dihitung FCR, dan IP. Sebagai studi kasus
pada budidaya ayam broiler 5.000 ekor jika diperkirakan membutuhkan
modal 100%, maka modal tersebut dapat dibagi dalam 5 komponen kebutuhan
yaitu : Pakan 76.3%, DOC 18.5%, Obat 1.5%, Sekam 1%, Pemanas 1% dan Upah
Tenaga Kerja 1.7%.
Meskipun faktor obat hanya berkisar 1.5% dari
total investasi namun faktor ini sangat menentukan bagus tidaknya
performan yang dihasilkan. Jika dalam pemeliharaan ayam tersebut tidak
diberi program kesehatan maka akan rentan terhadap kondisi sakit
sehingga tingkat kematian semakin tinggi dan bisa mencapai angka 1.6.7%,
pada umur 33 hari ayam hanya berbobot 1.09 kg dengan FCR (Feed
Convertion Rate) 1.97% sehingga diperoleh IP (indeks prestasi) 220. Dari
hasil yang diperoleh tersebut maka peternak tentunya akan mengalami
kerugian yang luar biasa besarnya per ekor bisa mencapai Rp. 1.935,-
jika dikalikan 5000 ekor maka peternak akan rugi sebesar Rp.
9.675.000,-.
Peternak yang selalu memantau dan melakukan program
kesehatan dengan baik maka tingkat kematian bisa semakin ditekan hingga
angka 1.97%, pada umur 33 hari ayam bisa mencapai bobot 1.96kg dengan
FCR (Feed Convertion Rate) 1.65% sehingga diperoleh IP (indeks prestasi)
336. Dari hasil yang diperoleh tersebut maka peternak tentunya bisa
memperoleh keuntungan yang besar, per ekor bisa mencapai Rp. 3.005,-
jika dikalikan 5000 ekor hasilnya sekitar Rp. 15.025.000,-.
Mengingat
sangat besar investasi yang ditanamkan dalam bidang budidaya
perunggasan, maka diharapkan dalam pengelolahan kesehatan unggas
peternak memiliki pengetahuan tentang tata laksana pemeliharaan ayam
karena tata laksana pemeliharaan ayam tersebut merupakan bagian dari
manajemen perunggasan, dimana merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi tingkat produksi. Semoga menjadi masukan untuk program
manajemen kesehatan bagi dokter hewan yang bekerja sebagai health
control di bidang budidaya perunggasan. (Agung Wahyono:
aveterinary@yahoo.com) www.vet-indo.com/agung
|
MAJU BERSAMA DALAM KEBERSAMAAN dengan Motto......... "UTAMAKAN PELAYANAN YANG JUJUR , DISIPLIN dan KERJA KERAS “Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata”
Selasa, 12 Februari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar