MAJU BERSAMA DALAM KEBERSAMAAN dengan Motto......... "UTAMAKAN PELAYANAN YANG JUJUR , DISIPLIN dan KERJA KERAS “Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata”
Sabtu, 16 Februari 2013
Rabu, 13 Februari 2013
Selasa, 12 Februari 2013
|
Optimalkan Program Kesehatan Unggas,
Investasi Aman.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan produk peternakan khususnya
daging ayam sangat tinggi dan hal ini menyebabkan penggunaan obat-obatan
untuk pencegahan dan perawatan/perlakuan terhadap penyakit ayam menjadi
semakin penting agar daging dapat diproduksi secara efisien. Untuk
mempertahankan efisiensi produksi ayam pedaging disatu sisi dan
menyediakan produk peternakan yang aman untuk dikonsumsi, perlu
diusahakan alternatif penggunaan antibiotik atau probiotik dalam
industri perunggasan.
Didalam budidaya perunggasan faktor penyebaran penyakit pada unggas
dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Karena itu pengawasan yang
ketat perlu dilakukan dan perlu juga perhatian yang lebih jika ayam
yang dipelihara terinfeksi suatu penyakit. Beberapa pertimbangan yang
perlu diperhatikan seperti: umur ayam yang terinfeksi penyakit, tingkat
morbiditas, jenis antibiotik dan dosis antibiotik yang akan digunakan
untuk mengobati ayam yang sakit, semuanya ini merupakan hal yang sangat
penting dan harus diketahui oleh seorang peternak.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian antibiotik, vaksin, dan probiotik pada ayam :
konsumsi pakan (consumtion), pertambahan berat badan (average
daily gain/ADG), Umur (age), dan kematian (mortilitas) dari keempat
variable tersebut akan dapat dihitung FCR, dan IP. Sebagai studi kasus
pada budidaya ayam broiler 5.000 ekor jika diperkirakan membutuhkan
modal 100%, maka modal tersebut dapat dibagi dalam 5 komponen kebutuhan
yaitu : Pakan 76.3%, DOC 18.5%, Obat 1.5%, Sekam 1%, Pemanas 1% dan Upah
Tenaga Kerja 1.7%.
Meskipun faktor obat hanya berkisar 1.5% dari
total investasi namun faktor ini sangat menentukan bagus tidaknya
performan yang dihasilkan. Jika dalam pemeliharaan ayam tersebut tidak
diberi program kesehatan maka akan rentan terhadap kondisi sakit
sehingga tingkat kematian semakin tinggi dan bisa mencapai angka 1.6.7%,
pada umur 33 hari ayam hanya berbobot 1.09 kg dengan FCR (Feed
Convertion Rate) 1.97% sehingga diperoleh IP (indeks prestasi) 220. Dari
hasil yang diperoleh tersebut maka peternak tentunya akan mengalami
kerugian yang luar biasa besarnya per ekor bisa mencapai Rp. 1.935,-
jika dikalikan 5000 ekor maka peternak akan rugi sebesar Rp.
9.675.000,-.
Peternak yang selalu memantau dan melakukan program
kesehatan dengan baik maka tingkat kematian bisa semakin ditekan hingga
angka 1.97%, pada umur 33 hari ayam bisa mencapai bobot 1.96kg dengan
FCR (Feed Convertion Rate) 1.65% sehingga diperoleh IP (indeks prestasi)
336. Dari hasil yang diperoleh tersebut maka peternak tentunya bisa
memperoleh keuntungan yang besar, per ekor bisa mencapai Rp. 3.005,-
jika dikalikan 5000 ekor hasilnya sekitar Rp. 15.025.000,-.
Mengingat
sangat besar investasi yang ditanamkan dalam bidang budidaya
perunggasan, maka diharapkan dalam pengelolahan kesehatan unggas
peternak memiliki pengetahuan tentang tata laksana pemeliharaan ayam
karena tata laksana pemeliharaan ayam tersebut merupakan bagian dari
manajemen perunggasan, dimana merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi tingkat produksi. Semoga menjadi masukan untuk program
manajemen kesehatan bagi dokter hewan yang bekerja sebagai health
control di bidang budidaya perunggasan. (Agung Wahyono:
aveterinary@yahoo.com) www.vet-indo.com/agung
|
Senin, 11 Februari 2013
UU No.18 Tahun 2009 Mendukung Monopoli dan Kartel Unggas Nasional
OPINI | 21 November 2011 | 18:34
Dibaca: 985
Komentar: 12
1 aktual
Surat terbuka DPP-PPUI
Kondisi komponen harga pokok primer unggas Tahun 2011 satu siklus panen 60 hari.
Mahalnya harga protein unggas Dalam Negeri seperti yang dilakukan para perusahaan PMA terintegrasi karena mereka melakukan usaha secara Monopoli dan Kartel, perusahaan PMA (dominan menguasai pangsa pasar Nasional) sebagai Leader Price
selalu menaikkan harga di DN dan sangat mudah juga menurunkan harga
dalam politik dumping-nya. Kenaikan dan penurunan harga DOC serta Pakan
ini selalu terjadi secara serempak disemua pabrikan melalui
asosiasi yang dikuasai PMA yaitu GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan
Unggas) dan GPMT (Gabungan Prusahaan Makanan Ternak), FMPI,
GAPPI, GOPAN. Selalu mahalnya harga protein unggas akan mengundang
masuknya daging impor jika harga produk ayam ras mahal dalam periode
panjang. Selama berlakunya UU No.6 Tahun 1967, para perusahaan PMA
selalu menjadikan Peternak Rakyat sebagai bamper untuk menghalau protein
impor dengan selogan “Daging impor akan mematikan usaha peternak rakyat
di dalam negeri” walupun dalam kondisi PMA mengusai pangsa pasar
Nasional disaat itu. Berlakunya UU No.18 /2009 yang baru, sebutan
Peternak Rakyat sudah dihilangkan dalam UU tersebut (dampaknya banyak
rakyat yang tidak beternak lagi) yang ada adalah perusahaan peternakan
dan perusahaan yang terintegrasi. Jika ada upaya impor protein asal
unggas atau hewan besar lainnya, maka tidak ada lagi alasan untuk
mengatakan bahwa daging impor akan mematikan usaha peternakan rakyat.
Jika ada unjuk rasa yang masih memakai pengatas namakan Peternak rakyat,
itu adalah pembohongan publik dan mereka itu adalah berasal dari
karyawan Peternak/mitra dari perusahaan PMA integrator yang merupakan
asosiasi-asosiasi rekayasa dalam perunggasan Nasional.
Menteri Pertanian RI Ir. Suswono mengatakan
dengan semangatnya bahwa usaha perunggasan Nasional harus didukung dan
diberikan kesempatan untuk terus tumbuh dan berkembang, jangan sampai
industri perunggasan dalam negeri yang sudah dibangun sekian lama hancur
karena Impor. Justru perunggasan dalam negeri telah dihancurkan oleh
perusahaan PMA unggas di Indonesia terbukti hancurnya usaha peternakan
rakyat serta melemahnya PMDN unggas. Pernyataan tersebut menunjukkan
besarnya keberpihakan sang menteri Pertanian kepada para perusahaan industri
perunggasan PMA besar integrator yang telah lama menghancurkan ratusan
ribu usaha peternakan unggas rakyat di dalam negeri sehingga menimbulkan
pengangguran baru dibidang perunggasan. Bahkan
bidang usaha pertanian jagungpun tidak kondusif karena petani jagung
selalu dipermainkan dengan harga murah disaat panennya. Kulminasi
penghancuran usaha rakyat ini, adalah digantinya UU No.6 Tahun 1967
menjadi UU No.18 Tahun 2009 (UU yang melegalkan kejahatan ekonomi unggas
yaitu berupa Monopoli dan Kartel). Kejahatan ekonomi tersebut telah
melanggar Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil serta
Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Sejak berlakunya UU No.18 Tahun 2009 selama dua tahun ini,
usaha perunggasan Nasional semakin terpuruk dan parah yang ditandai
dengan banyaknya usaha peternakan rakyat gulung tikar secara permanen.
Hal ini terjadi karena seringnya komponen harga pokok di peternak
mengalami kenaikan dalam jangka panjang serta terjadi penurunan yang
tiba-tiba dalam waktu singkat setelah itu naik lagi secara tajam
sementara harga ayam panen dikandang peternak rakyat harganya tidak bisa
diprediksi. Kenyataan ini sebenarnya sudah lama terjadi, akan tetapi
sejak berlakunya UU No.18/2009 hingga kini kondisinya lebih parah lagi
sehingga usaha peternakan unggas rakyat mengalami kerugian yang
berkepanjangan sehingga modal kerja usaha rakyat tidak bisa tertutupi
dengan usaha yang ada serta hutang peternak semakin banyak dan membesar
kepada perusahaan Breeding Farm dan FeedMill.
|
Komponen Hrg.Pokok
|
Juli (Rp)
|
Agustus (Rp)
|
September (Rp)
|
| DOC/ekor |
4.000 - 5.000
|
3.500 - 3.000
|
1.000 - 500
|
| Pakan/Kg |
4.500 - 5.100
|
5.100 - 5.400
|
5.000 - 5.400
|
| Ayam Panen/Kg hidup |
14.000 - 15.000
BEP = 15.000
|
14.000 - 13.000
BEP = 13.700
|
12.000 - 7.000
BEP = 12.000
|
|
Komponen Hrg.Pokok
|
Oktober (Rp)
|
November (Rp)
|
Deseember (Rp)
|
| DOC/ekor |
2.000 - 2.500
|
2.000 - 3.000
|
0
|
| Pakan/Kg |
5.100 - 5.200
|
5.300 - 5.400
|
0
|
| Ayam Panen/Kg hidup |
13.500 - 14.000
BEP = 14.500
|
14.000 - 14.200
BEP = 13.900
|
0
0
|
Seperti berita Harian Kompas tanggal 17
Oktober 2011 yang masih menggunakan kata peternak (berkesan peternakan
rakyat) berjudul “Ayam Malaysia Rugikan Peternak Indonesia”.
Pasal dalam UU No.18 Tahun 2009
(Pasalnya diperjual belikan oleh anggota DPR-RI) yang memberi peluang
besar kepada praktek Monopoli dan Kartel secara terintegrasi dan PMA
bisa menjual hasil produksinya di pasar tradisional didalam negeri
adalah :
1. Pasal dalam UU No.18/2009 yang membolehkan integrasi usaha.
Perhatikan Bab II “Asas dan Tujuan” Pasal 2 UU No.18/2009 : “Peternakan
dan kesehatan hewan dapat diselenggarakan di seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang dilaksanakan secara tersendiri dan/atau
melalui INTEGRASI dengan budidaya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, kehutanan, atau bidang lainnya yang terkait”.
2. Pasal yang membolehkan PMA dan PMDN integrator berbudidaya komersial.
Pasal 29 ayat 1 : “Budidaya ternak hanya dapat dilakukan oleh peternak, perusahaan peternakan, serta pihak tertentu untuk kepentingan khusus”.
3. Pasal yang membolehkan PMA dan PMDN integrator menjual di dalam negeri.
Pasal 36 ayat 1 : “Pemerintah
berkewajiban untuk menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan
pemasaran hewan atau ternak dan produk hewan di dalam negeri maupun ke
luar negeri”.
Hal-hal diatas inilah yang memunculkan permasalahan baru dalam tata-niaga perunggasan Nasional saat ini.
Menurut UU No.5 Tahun 1999 :
Pasal 1. 1. Monopoli
adalah penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa
tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha.
2. Praktek monopoli adalah pemusatan
kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan
dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa
tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat
merugikan kepentingan umum.
Pasal 11 : Pelaku usaha
dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya, yang
bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau
pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. (Pada
Assosiasi GPPU selama ini diatur jumlah produksi dan diatur kesepakatan
kenaikan harga bibit (DOC) lalu pada assosiasi GPMT diatur produksi
pakan dan diatur juga kesepakatan kenaikan harga pakan bersama).
Misi UUD 1945 dibidang ekonomi :
Perekonomian
bedasarkan asas demokrasi ekonomi adalah untuk kemakmuran bagi semua
orang. Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan
yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau
tidak, produksi yang penting jatuh ketangan orang-seorang yang berkuasa
dan rakyat yang banyak ditindasnya.
Bumi
dan air dan kekayaan alam yang terkandung alam bumi dalam wilayah NKRI
adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Sehubungan Undang-Undang No. 18 Tahun
2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan kenyataannya bertolak
belakang dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang seharusnya
dibatalkan demi hukum dan kembali pada Undang-Undang No. 6 Tahun 1967
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan yang
masih relevan sampai saat ini, karena semua yang berkepentingan dalam
peternakan terakomodasi dengan adil untuk mencapai tujuan umumnya, yaitu
di bidang peternakan dan pemeliharaan kesehatan hewan diadakan
perombakan dan pembangunan-pembangunan dengan tujuan utama penambahan produksi, meningkatkan taraf hidup peternak Indonesia, dan untuk
dapat memenuhi keperluan bahan makanan yang berasal dari ternak bagi
seluruh rakyat Indonesia secara adil, merata, dan cukup.
PPUI usulkan kepada Pemerintah adalah :
1. Segera cabut UU No.18 Tahun 2009, terbitkan Keppres tentang tata-niaga perunggasan Nasional
yang berisi Pasal tentang segmentasi Pasar, lalu kembali kepada UU No.6 Tahun 1967.
2. Segera dibuat Keppres tentang segmentasi pasar dengan cara :
- Pasar dalam negeri sepenuhnya untuk pemasaran dari output produksi budidaya peternakan rakyat dan koperasi unggas.
- Budidaya peternakan dari perusahaan besar atau PMA-PMDN integrator hanya boleh dipasarkan pada pasar export.
3. KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) segera mengungkap tentang pelanggaran
terhadap UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat yang sudah lama terjadi di Indonesia yang dilakukan oleh perusahaan besar
PMA.
PMA unggas mendapat Pinjaman Sindikasi Bank Nasional.
Kami merasa prihatin atas pemberian
pinjaman tanpa jaminan kepada perusahaan PMA PT Charoen Pokphand
Indonesia Tbk telah mendapatkan fasilitas pinjaman sindikasi Bank
sebesar US$.250 juta dari sindikasi 13 bank yang akan digunakan untuk
membiayai kembali hutang, mendanai belanja modal, dan sebagai kebutuhan
modal kerja. Sindikasi Bank tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk,
DBS Bank Ltd/PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk, dan Sumitomo
Mitsui Banking Corporation cabang Singapura, PT Bank ICBC Indonesia, PT
Bank Mizuho Indonesia, PT ANZ Panin Bank, PT Bank Rabobank Internationak
Indonesia, PT Bank Commonwealth Chang Hwa Commercial Bank Ltd cabang
Singapura, Mega International Commercial Bank Co Ltd cabang Offshore
Banking, dan Cathay United Bank cabang Labuan.
Penandatanganan pinjaman sindikasi itu dilakukan di Ballroom C Grand Hyatt Hotel disaksikan oleh perwakilan Bank dan PT. CPI.
Penandatanganan pinjaman sindikasi itu dilakukan di Ballroom C Grand Hyatt Hotel disaksikan oleh perwakilan Bank dan PT. CPI.
Pemberian pinjaman itu bisa saja untuk
menutupi kerugian yang terjadi di Thailand sebagai akibat dari banjir
yang berkepanjangan baru-baru ini sehingga diduga kuat adanya capital
flight dari Indonesia yang cukup besar.
Diketahui bersama oleh pemerintah bahwa perusahaan PMA ini memiliki andil besar dalam usaha secara Kartel dan Monopoli di usaha perunggasan Indonesia, yang menyebabkan matinya usaha perunggasan rakyat.
Diketahui bersama oleh pemerintah bahwa perusahaan PMA ini memiliki andil besar dalam usaha secara Kartel dan Monopoli di usaha perunggasan Indonesia, yang menyebabkan matinya usaha perunggasan rakyat.
Kalau pemerintah mendeteksi
tata-niaga perunggasan Nasional saat ini tidak bermasalah, tentu
pinjaman sindikasi Bank yang jumlahnya Rp. 2 Triliun lebih tepat
diarahkan kepada pemberdayaan Peternakan Rakyat dan pemberdayaan PMDN
perunggasan.
DPP-PPUI mengharapkan kepada
Pemerintah agar menyetop pinjaman sindikasi tersebut, karena dana
tersebut akan digunakan dalam proses perang dagang di dalam negeri
menghancurkan usaha perungasan Nasional pada posisi yang paling parah.
Potensi pasar unggas Dalam Negeri yang cukup besar ini dan telah mencapai perputaran uang senilai Rp.130 Triliun/tahun, putaran sebesar ini harus memberikan dampak peluang usaha sebesar-besarnya bagi masyarakat banyak sesuai dengan misi UUD 1945 dan UU No. 6/1967. Oleh karena itu, para pelaku perunggasan Nasional bersama Pemerintah
seharusnya bersegera merubah pola pikir dan pola tindak kearah
pemberdayaan masyarakat Indonesia ke depan yang berdaya saing tinggi
dalam menyongsong kebangkitan bangsa Indonesia yang diidamkan dan di
cita-citakan oleh para pendiri Republik Indonesia tercinta ini
selanjutnya masyarakat menantikan tindakan nyata keberpihakan
Pemerintah dalam penciptaan pekerjaan dan peluang usaha seluas-luasnya
kepada Rakyat Indonesia. (DPP-PPUI)
Minggu, 10 Februari 2013
Awal dari Usaha Peternakan ini dirintis pada tahun 1993 oleh Bpk H. APPAS MALA & Alm Istri tercinta Hj. Zainab Latief, beserta kedelapan Putra-putrinya
Beternak layer dimulai dengan populasi awal 1.000 ekor dan masih dalam bentuk plasma yang dinaungi oleh H.Azis, dimana waktu itu ilmu peternakannya masih sangat minim dan akses informasi masih sangat terbatas sedangkan penyakit ayam dikandang datang silih berganti tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus menggeluti dunia peternakan layer,” dari tahun ketahun populasi kandangpun terus bertambah.
Usaha peternakan Bpk H.APPAS MALA makin terus melaju dan melebarkan sayapnya dengan membentuk sebuah Usaha Peternakan Keluarga Cahaya Mario Brother’s Group, PS & LF. Yang bergelut dibidang usaha Jual beli telur dan pakan ayam serta membentuk Anggota plasma yang dimana berawal dari 27 orang plasma.
Seiring dengan bertambahnya waktu Usaha Peternakan Keluarga Cahaya Mario Brother’s Group, pun terus meningkat yang hingga sekarang Usaha Peternakan Cahaya Mario Brother’s Group, telah tersebar diberbagai wilayah kabupaten SIDRAP Cahaya mario Brother’s Group Terus membuka diri dengan pihak Stakeholder peternakan/ perusahaan Pakan & Obat serta pihak pemerintah baik untuk penyedian bahan baku, pakan, obat, maupun servis manajemen & kesehatan yang kerap kali diturunkan untuk melakukan pembinaan keplasma & peternak mandiri lainnya demi untuk peningkatan keteranpilan peternak sesuai perkembangan jaman agar lebih mandiri dan mempunyai daya saing tinggi
Cara Pemeliharaan Ayam Petelur
Cara Pemeliharaan Ayam Petelur
A).Peme.iharaan Ayam Bibit
Pemeliharaan ayam bibit merupakan pemeliharaan ayam induk (parent stock) yang dipelihara bersama-sama pejantan. Menurut (Sudaryani dan Santosa, 2003), usaha pembibitan adalah usaha peternakan yang menghasilkan ternak untuk dipelihara lagi dan bukan untuk dikonsumsi. Pembibitan (breeding) dalam usaha peternakan ayam petelur komersial sangat penting dan sangat perlu mendapat perhatian yang khusus. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan mendapatkan kualitas DOC final stock yang bagus serta menghindari terjadinya inbreeding dalam suatu peternakan. Jika pemeliharaan ayam parent stock kurang baik berdampak buruk pada keturunan yang dihasilkan. Seperti contoh, apabila induk terserang penyakit menular maka penyakit tersebut bisa ditularkan secara vertikal pada keturunannya.
B).Strain Ayam yang Dipelihara
Pemeliharaan ayam bibit pada saat ini menggunakan strain Hy-Line Brown. Pada pemeliharaan sebelumnya Dony Farm memelihara strain Bovans Goldline dan Isa Brown. Ayam bibit strain Bovans Goldline didatangkan dari Belanda. Pemeliharaan ayam bibit strain Bovans Goldline terputus karena pada saat itu pemerintah melarang mendatangkan ayam dari negara Belanda. Pada tahun 2004, Dony Farm mendatangkan parent stock Isa Brown. Pada bulan Mei tahun 2006,
C).Persiapan Kandang dan Peralatan
Persiapan kandang membutuhkan waktu yang relatif lama karena kandang dibersihkan dan diistirahatkan. Hal ini dilakukan agar siklus penyakit terputus sebelum pemeliharaan ayam dimulai. Tahapan persiapan kandang yang dilakukan adalah penyemprotan kandang dan litter dengan obat kutu, pengangkatan litter bekas, penyemprotan kandang dengan obat kutu kembali, pencucian kandang dengan air dan deterjen, perbaikan fisik kandang, penyemprotan dengan formalin dengan dosis 5 liter per 95 liter, pemasangan chick guard dan gasolec dan memasukkan sekam.
Peralatan kandang dibersihkan agar anak ayam terhindar dari penyakit. Peralatan yang digunakan pada periode starter yaitu tempat pakan, tempat minum, koran sebagai alas, alat pemanas (gasolec) dan chick guard (lingkar pembatas).
Dalam chick guard (lingkar pembatas) dipasang sebuah gasolec pada ketinggian 1,0-1,2 meter dengan kemiringan 45°. Kapasitas satu chick guard untuk 500-750 ekor. Menurut Sudaryani dan Santoso (2004), empat jam sebelum DOC datang, pemanas sudah dinyalakan sehingga pada saat DOC datang suhu sudah stabil yaitu 35°C. Tempat pakan dan minum diletakkan di dalam chick guard yang telah dialasi koran. Tempat pakan yang digunakan yaitu feeder tray dan tempat minum berbentuk toples terbalik. Tempat pakan dan tempat minum disusun secara selang-seling dan melingkar mengikuti chick guard.
D).Perlakuan Saat DOC Datang
Pada saat DOC datang, pertama kali DOC dihitung dan dibagi ke dalam chick guard dengan jumlah yang sama. Setelah itu, kegiatan yang dilakukan adalah mengontrol suhu di daerah chick guard selama 24 jam, pemberian dan pengecekan pakan dan air minum. Pemberian air minum dilakukan dua kali sehari, sedangkan pengecekan pakan dilakukan enam kali sehari, setiap empat jam sekali.
E).Pemberian Pakan dan Minum
Pemberian pakan pada periode starter dilakukan ad libitum hingga ayam berumur tiga minggu. Hal ini bertujuan untuk memacu ayam mengkonsumsi pakan untuk menunjang perkembangan organ-organ tubuhnya. Menurut Rasyaf (1995), pada masa ini bagian-bagian tubuh unggas tumbuh pesat, terutama bagian-bagian tubuh utama, jaringan daging, organ tubuh, bulu dan tulang.
Pemberian minum untuk periode starter dilakukan ad libitum dengan penambahan vitamin dan antibiotik. (Sudaryani dan Santosa, 2003), pemberian obat anti stress melalui air minum bertujuan untuk meringankan cekaman pada anak ayam. Tempat minum yang digunakan berbentuk toples terbalik.
F).Program Pencahayaan
Pemberian cahaya pada periode starter bertujuan agar ayam dapat mengenal lingkungannya dengan baik untuk memacu pertumbuhan.
Setelah ayam berumur 15 minggu lama pencahayaan hanya 12 jam per hari atau pencahayaan hanya berasal dari sinar matahari (natural light). Malam hari tidak ada penambahan cahaya. Tujuannya yaitu menghambat dewasa kelamin dini dan mencegah ayam kegemukan dengan mengurangi waktu makan ayam. Pada umur 15-17 minggu dilakukan sistem black out atau ruangan dibuat setengah gelap untuk mengontrol hormon reproduksi, sehingga diperoleh kematangan organ reproduksi yang serentak.
Penimbangan
Penimbangan ayam dilakukan setiap minggu secara acak dengan sampel 10% dari populasi ayam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2003), bahwa penimbangan dilakukan secara acak dengan jumlah sampel lebih kurang 10% dari populasi ayam. Penimbangan dilakukan sebelum ayam diberi makan.
Tujuan penimbangan adalah untuk mengetahui bobot badan anak ayam sehingga pengontrolan bobot badan dan tingkat keseragaman ayam pada periode starter dapat dicapai. Anak ayam yang bobot badan kecil dan lemah dipisah pada brooder yang berbeda untuk diberi perlakuan yang intensif.
Pemotongan Paruh
Pemotongan paruh dilakukan pada anak ayam umur 10 hari. Sudaryani dan Santosa (2003) menyatakan bahwa keuntungan pemotongan paruh pada ayam umur muda adalah ayam mudah dipegang, dapat mengurangi pendarahan dan cekaman serta daya hidup anak ayam lebih baik. Tujuan pemotongan paruh adalah menghilangkan sifat kanibal, efisiensi pakan dan memacu pertumbuhan.
Paruh dipotong hingga sepertiga bagian dengan menggunakan electric debeaker. Sebelum pemotongan paruh, DOC diberi vitamin K dan antibiotik melalui air minum. Setelah pemotongan paruh, DOC dipuasakan minum selama dua jam dan pakan lima jam. Tujuan pemuasaan ini agar tidak tidak terjadi pendarahan pada mulut ayam.
BIOSECURITY PADA AYAM PETELUR.
Pengendalian atau pencegahan penyakit adalah suatu tindakan untuk melindungi individu terhadap serangan penyakit atau menurunkan keganasannya. Pengendalian atau pencegahan penyakit pada pemeliharaan ayam pembibit petelur sangat penting sehingga dapat mengatasi atau mencegah terjadinya penularan penyakit ataupun timbulnya penyakit. Pemeliharaan kesehatan unggas merupakan bagian integral dari usaha peningkatan produksi ternak. Produktivitas dan reproduktivitas ternak hanya dapat dicapai secara optimal apabila ternak dalam keadaan sehat. Oleh sebab itu pemeliharaan kesehatan ternak merupakan salah satu syarat tercapainya target produksi yang optimal. Program pencegahan penyakit yang dilakukan di Dony Farm antara lain melakukan biosekuriti yang ketat, sanitasi dan vaksinasi
Biosekuriti
Program biosecurity yaitu upaya untuk menjadikan suatu kawasan Peternakan terbebas dari bibit penyakit (mikroorganisme pathogen) dari reservoir atau vektor pembawanya.
Pintu gerbang suatu peternakan adalah tempat pertama bagi orang yang mau masuk ke areal atau komplek peternakan dan merupakan titik awal keberhasilan suatu peternakan terbebas dari wabah atau serangan penyakit. mengkondisikan setiap orang maupun kendaraan tidak sembarangan keluar masuk Farm, dan pintu selalu dijaga ketat oleh petugas. Pada breeding farm dan hatchery selalu dalam keadaan terkunci. Tidak setiap kendaraan atau orang bisa masuk ke kawasan farm demi terlaksananya program pencegahan penyakit. Sebelum masuk ke area breeding farm (di depan pos keamanan), setiap kendaraan dan pengunjung/staf/karyawan harus melewati area penyemprotan dengan desinfektan. Sebelum masuk ke area hatchery, setiap karyawan/staf/pengunjung diwajibkan mengganti pakaian dan disemprot dengan desinfektan. Desinfektan yang digunakan adalah BKC atau long life dengan dosis ringan yaitu 1cc/liter air. Tujuan penggunaan desinfektan ini adalah untuk membunuh mikroorganisme patogen yang mungkin terbawa oleh kendaraan, karyawan/staf/pengunjung.
Biosekuriti yang dilakukan meliputi penyemprotan kendaraan, karyawan/staf/pengunjung dengan desinfektan long life dengan dosis 1 cc/liter air di depan pos jaga keamanan. Berikutnya dilakukan penyemprotan terhadap karyawan/staf/pengunjung yang akan masuk ke area perkantoran yaitu di sebelah kantor feed mill dengan desifektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Kemudian, sebelum masuk ke area kandang yaitu di sebelah kantor departemen produksi, setiap karyawan/staf/pengunjung disarankan untuk mengganti pakaian rumah dengan pakaian kerja/pakaian yang bersih sebelum disemprot lagi dengan desinfektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Selain aitu, di sebagian kandang disediakan untuk mencelup kaki (dipping foot) dan tangan (dipping hand) sebelum masuk ke dalam kandang dan menangani ternak. Desinfektan yang digunakan untuk mencelup kaki dan tangan adalah long life dengan dosis 1cc/liter air. Biosekuriti yang sama dilakukan juga .
a).Sanitasi Kandang dan Sekitarnya
Sanitasi adalah program di suatu kawasan Peternakan yang bertujuan untuk menjaga terjadinya perpindahan bibit penyakit menular sehingga ternak yang dipelihara terbebas dari infeksi bibit penyakit serta selalu dalam kondisi sehat. Program sanitasi yang dilakukan di breeding farm dan hatchery dengan melakukan penyemprotan kandang 1 kali dalam sehari, menggunakan larutan desinfektan TH-4 atau BIODES dosis yaitu 5cc untuk 1 liter air. Frekuensi dari penyemprotan ini ditingkatkan jika ada kemungkinan terjangkit penyakit. Penyemprotan yang kedua dilakukan di lingkungan sekitar kandang yaitu satu kali dalam satu minggu menggunakan desinfektan jenis long live atau BKC dengan dosis 1cc/liter air. Penyemprotan seperti ini dilakukan secara rutin kecuali saat tertentu, misalnya dilakukan vaksinasi.
Selain penyemprotan dengan menggunakan larutan desinfektan, juga dilakukan proses karantina ayam yang sudah terindikasi terserang penyakit, atau memusnahkannya. Lalu lalang dan perpindahan karyawan atau peralatan kandang dibatasi, binatang liar beserta sarangnya yang memungkinkan berpindah sebagai vector dari mikroorganisme penyebab penyakit dibasmi dengan racun tikus.
Hal lain yang dilakukan adalah menghindari pemeliharaan ayam dengan umur yang beragam dalam satu flok, menjaga kebersihan kandang, peralatan dan daerah sekitarnya, menjaga litter dalam kandang agar tetap kering, menjaga ventilasi dan aliran udara dalam kandang agar selalu dalam keadaan baik.
b).Sanitasi pada Hatchery
Program sanitasi yang dilakukan pada hatchery adalah membersihkan kendaraan dan peralatan yang dipakai pada saat membawa telur tetas dengan desinfektan agar dalam kondisi bebas dari organisme patogen pembawa penyakit. Desinfektan yang digunakan adalah jenis TH-4 atau BIODES dengan dosis 1cc/liter air. Telur tetas setelah terkumpul, sebelum dibawa ke hatchery terlebih dahulu difumigasi dengan menggunakan formalin 40% sebanyak 240 cc dengan 96 g forcen/PK untuk 8 m3 ruangan. Hal ini dimaksudkan agar telur yang baru diperoleh dari kandang bebas penyakit atau bakteri sebelum masuk ruang penyimpanan telur (cooling room).
Setelah kegiatan full chick, semua peralatan dan bagian ruangan disemprot dengan air bertekanan tinggi. Setelah itu dilakukan desinfeksi ruangan hatchery menggunakan desinfektan long live dengan dosis 5cc/liter air. Hal ini bertujuan untuk membunuh mikroorganisme patogen yang ada di lingkungan dan sekitar bagian ruangan hatchery.
c).Penanganan Ayam Mati
Penanganan ayam mati dan kotoran ayam penting artinya dalam usaha pengendalian kesehatan ayam. Apabila pengguanannya sudah benar maka dampaknya bagi kesehatan ayam yang dipelihara akan terlihat jelas begitu pula sebaliknya, apabila salah dalam penanganannya akan sangat membahayakan kesehatan ternak. Ayam mati merupakan salah satu sumber penyakit dan pencemaran lingkungan.
Pada breeding farm Hatchery dilakukan penanganan sebagai berikut, mengumpulkan ayam-ayam mati dari setiap kandang, melakukan usaha pembakaran ayam mati yang disebabkan penyakit berbahaya atau terinfeksi, melakukan penguburan ayam-ayam mati ke dalam lubang khusus yang disediakan atau bila perlu dilakukan pencelupan dengan desinfektan.
d).Program Vaksinasi
Program pengendalian kesehatan ayam selanjutnya adalah program vaksinasi. Program ini adalah program yang paling sering digunakan dalam mencegah timbulnya penyakit di suatu kawasan peternakan. Program vaksinasi dalam suatu peternakan tidak selalu bersifat statis tapi dinamis. Artinya, tidak baku antara satu perternakan dengan peternakan lainnya, tidak hanya jenis vaksin yang digunakan tetapi program vaksinasinya pun beragam. Biasanya program vaksinasi ini disesuaikan dengan kasus penyakit yang pernah terjadi. Menurut (Wiharto. 1986), bahwa vaksinasi merupakan salah satu diantara berbagai cara yang efektif untuk melindungi individu terhadap serangan berbagai macam jenis penyakit tertentu.
Pencegahan penyakit melalui program vaksinasi pada Dony Farm diaplikasikan dengan sangat ketat. Jenis vaksin yang digunakan terdiri dari vaksin live dan vaksin kill yang diperoleh dari Intervet, Medion dan yang lainnya sebagai produsen dan SHS, Vaksindo sebagai suplemennya. Pemberian Vaksin ini berfungsi untuk mendapatkan kekebalan untuk jangka waktu tertentu. Kegiatan revaksinasi oleh Dony Farm dilakukan satu sampai dua minggu sebelum kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin di dalam tubuh sampai batas minimum. Hal ini dimaksudkan agar anti bodi selalu ada dalam tubuh ayam.
Dalam melakukan vaksinasi ada beberapa faktor yang dicatat yaitu tanggal pelaksanaan vaksinasi, nama perusahaan dan nomer seri vaksin untuk mengontrol hasil vaksinasi dan administrasi serta memudahkan komplain jika ada masalah dengan vaksin. Nama vaksinator juga dicatat untuk menelusuri bila terjadi kegagalan dalam vaksinasi. Faktor lain yang dilakukan adalah menghindari vaktor yang bisa mematikan vaksin, seperti sinar matahari langsung, panas seperti yang ditimbulkan dari deterjen, bara rokok, desinfektan dan pencampuran vaksin yang tidak benar. Selain itu, vaksinasi dilakukan sesuai dengan prosedur dan penyimpanan vaksin sesuai dengan rekomendasi produsen.
Dalam prosedur vaksinasi yang diperhatikan diantaranya memberikan vitamin dan anti stres pada ayam sebelum dan sesudah dilaksanakannya vaksinasi/ tergantung dari kondisi ayam. Setelah selesai vaksinasi, bekas vaksin dimusnahkan dan peralatan yang digunakan selama vaksinasi segera dibersihkan dan direbus.
e).Menghindari Stres
Stres adalah kondisi tubuh yang mengalami gangguan hormonal secara temporer. Adanya stres pada ayam dapat mempermudah kemungkinan terkena penyakit menular. Akibat-akibat yang timbul bila stres diantaranya dehidrasi sebagai akibat pembakaran dalam tubuh yang meningkat, menyebabkan air serta garam mineral (elektrolit) tubuh banyak terbuang. Hal tersebut menyebabkan nafsu makan berkurang, sehingga asimilasi vitamin terganggu, pertumbuhan terganggu dan badan menjadi lemah sehingga mudah terserang penyakit. (Sudaryani dan Santosa, 2003)
Untuk mencegah terjadinya stres, kegiatan-kegiatan adalah selalu memberikan vitamin dan elektrolit jika terjadi suatu hal yang membuat ayam stres, misalnya sebelum dan sesudah vaksinasi, operator kandang diberi pengarahan dan selalu diingatkan untuk tidak melakukan perlakuan kasar selama pemeliharaan. Selain itu, kandang dijaga supaya selalu dalam keadaan tenang dan menghindari suara gaduh yang dapat menimbulkan stres pada ayam. Demikian juga lingkungan di sekitar kandang diusahakan tetap stabil, seperti perubahan temperatur dengan cara membuka dan menutup tirai sesuai kondisi dalam kandang. Hal lain yang dilakukan adalah menempatkan peralatan kandang dengan tepat dan jumlahnya memadai, aktivitas sehari-hari dan petugas tidak berubah secara mendadak dan menghindari akumulasi tingginya gas amoniak dengan menggunakan kipas.
f).Program Pengobatan
Program pengobatan dilakukan pada saat keadaan ayam sudah terditeksi secara dini terkena suatu penyakit. Hal ini dilakukan untuk mencegah sulitnya program pengobatan karena pengobatan membutuhkan waktu lama dan memakan biaya yang mahal.
Untuk menentukan jenis obat yang akan diberikan, terlebih dahulu harus diketahui jenis penyakit yang menyerang. Untuk itu dilakukan diagnosa penyakit dengan langkah-langkah sebagai berikut: menentukan bahwa suatu peternakan ada kasus, mendapatkan keterangan peternak tentang sejarah kelompok ayam dan peternakan, pemeriksaan di peternakan termasuk post mortem, pengambilan dan pengiriman material untuk pemeriksaan laboratorium.
g).Tata Laksana Pemeliharaan
Faktor manajeman pemeliharaan yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap keseharan ayam tersebut diantaranya adalah kualitas bibit, sistem pemeliharaan, kandang dan peralatan. .
Kualitas bibit yang baik akan menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan. Bibit ayam dipilih dari sumber yang diyakini bebas dari berbagai penyakit dan kualitas bibitnya baik sesuai dengan standar setiap strain.
Sistem pemeliharaan dilakukan sesuai dengan rekomendasi penghasil bibit, seperti memelihara ayam satu umur dalam satu flok. Ayam dipelihara dari umur satu hari sampai diafkir berada dalam satu kandang (all in all out). Kandang dan peralatan selalu bersih. Kandang dan peralatan yang kotor dapat bertindak sebagai media yang baik bagi mikroorganisme patogen untuk berkembang biak dan akan bertindak sebagai media dalam penularan penyakit.
Tes Darah
Tes darah merupakan salah satu program penunjang untuk mengontrol jenis penyakit di kawasan usaha peternakan ayam. Program ini dijalankan secara teratur dan terjadwal. Penyakit yang bisa dideteksi tes darah adalah penyakit yang disebabkan oleh pullorum, thypoid, mycoplasma. Tes darah juga bisa untuk mengetahui tingkat titer anti bodi ayam yang berhubungan erat dengan program vaksinasi yang sedang dijalankan.
Evaluasi Keberhasilan Program Pencegahan Penyakit
Selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap keberhasilan pemeliharaan ayam komersial dan ayam parent stock. Evaluasi ini didasarkan pada perhitungn tingkat kematian (mortalitas), efisiensi pakan dan produksi telur.
Tingkat keberhasilan program pencegahan penyakit dan sanitasi juga dievaluasi melalui produksi telur yang dikeluarkan perusahaan pembibit ayam tersebut. Langkah yang dilakukan ini sesuai yang diungkapkan Wiharto (1986), bahwa produksi telur dilakukan untuk membandingkan tingkat produksi telur ayam secara kasar dengan tingkat dasar (standar) ayam tersebut, yang dikeluarkan oleh pihak peruhsahaan pembibit sebagai evaluasi dalam pelaksanaan program pencegahan penyakit ayam.
1).PENETASAN
Pengelolaan penetasan dilakukan di unit hatchery. Kegiatan yang dilakukan pada unit hatchery antara lain penanganan telur sebelum ditetaskan, proses penetasan, pull chick (penurunan DOC).
a).Penanganan Telur Sebelum Ditetaskan Grading (Seleksi Telur)
Tahap awal dari proses penetasan dimulai dari penyeleksian telur (grading). Menurut Sudaryani dan Santoso (2003), tujuan seleksi telur tetas adalah untuk mendapatkan anak ayam yang sesuai dengan yang diharapkan.
Kriteria telur yang baik untuk ditetaskan (Hatching Egg) adalah telur utuh dan bersih, bobot telur 55-70 gram, bentuk telur normal dengan indeks 74%, ketebalan kerabang 0,33 mm (Rasyaf, M. 1995). Telur yang tidak masuk ke dalam kriteria telur tetas dimasukkan ke dalam gudang telur untuk dijual sebagai telur konsumsi.
Telur yang lolos seleksi ditempatkan di egg tray.
b).Fumigasi Telur Tetas Telur tetas yang telah lolos seleksi kemudian dimasukkan ke dalam ruang fumigasi berukuran 3 m x 2,5 m x 3 m. Fumigasi dilakukan selama 20 menit dengan dosis 280 g KMnO4 dan 560 ml formalin 40%. Menurut Sudaryani dan Santosa (2003), fumigasi dilakukan untuk membunuh kuman penyakit.
c).Penyimpanan Telur Telur yang telah difumigasi disimpan di cooling room. Cooling room merupakan ruangan khusus untuk menyimpan telur tetas sebelum dimasukkan ke setter. Suhu dan kelembaban ruangan penyimpanan diatur sehingga embrio tidak berkembang. Tujuan utama penyimpanan telur tetas adalah menunggu sampai jumlah telur yang ingin ditetaskan tercapai. Lama penyimpanan telur tetas berkisar 3-4 hari pada suhu 20 oC dan kelembaban 70%-80%. Penyimpanan telur tetas yang terlalu lama dapat mempengaruhi daya tetas telur.
e).Proses Penetasan Pre Warming
Setelah jumlah telur yang akan ditetaskan terpenuhi, maka telur tetas dikeluarkan dari cooling room menuju setter. Akibat jauhnya perbedaan suhu antara cooling room dengan setter, maka perlu adanya penyesuaian suhu agar embrio yang ada di dalam telur tidak mengalami cekaman. Proses penyesuaian suhu tersebut disebut pre warming. Lamanya proses pre warming didasarkan pada ketebalan kerabang telur.
Setter
Telur dari pre warming dimasukkan ke dalam ruang setter (ruang inkubator). Telur disetting berdasarkan kandang, kualitas telur, dan umur induk ayam. Suhu ruang setter 37,5 oC dan kelembaban 55%. Pemutaran telur tetas di dalam setter dilakukan selama 18 hari dengan frekuensi pemutaran satu jam sekali. Sudut pemutaran telur 90 o dan kemiringan 45o. Bila telur tidak diputar, maka kuning telur akan melekat pada satu sisi kerabang telur dan berakibat pada kematian embrio. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudaryani dan Santosa (2003), bahwa telur tetas harus diputar setiap jam untuk menjaga embrio agar tidak menempel pada kerabang telur.
f).Transfer Telur Tetas dan Candling Transfer adalah proses pemindahan telur tetas dari setter ke hatcher saat umur embrio 18 hari. Sebelum masuk ke mesin hatcher, terlebih dahulu dilakukan candling (peneropongan). Candling dilakukan untuk memisahkan telur yang fertil, infertil dan explode. Menurut Nuryati dkk (2003), telur explode disebabkan telur terkontaminasi bakteri, kotor, pencucian telur kurang baik dan mesin tetas kotor.
Transfer telur tetas dan candling dilakukan dengan cepat, maksimal 30 menit karena embrio dapat mati akibat perubahan suhu telur yang drastis. Telur yang sudah diteropong dipindahkan ke kereta buggy hatcher yang berbentuk keranjang.
Hatcher
Telur yang lolos pada saat candling kemudian dimasukkan ke dalam mesin hatcher selama tiga hari. Selama berada di hatcher tidak dilakukan pemutaran telur karena pada periode ini akan terjadi pipping (anak ayam berusaha memecah kerabang dengan paruhnya).
Pengaturan suhu dan kelembaban dilakukan berdasarkan keadaan telur. Suhu dalam hatcher sekitar 37-38 oC. Kelembaban hatcher sebelum pipping sekitar 55% dan saat pipping kelembaban dinaikkan menjadi 70%-75%. Kelembaban yang tinggi dapat membantu proses pipping. Saat telur menetas (setelah pipping) kelembaban diturunkan kembali menjadi 52%-55% dan suhu dalam keadaan lebih rendah dari 37 oC untuk membantu proses pengeringan bulu DOC.
g).Pull Chick (Penurunan DOC) Pull chick adalah kegiatan menurunkan DOC dari mesin hatcher, termasuk sexing DOC (pemisahan DOC jantan dan betina), seleksi sambil memasukkan DOC ke dalam boks. Sexing dilakukan berdasarkan warna bulu. DOC jantan memiliki warna bulu kuning dan garis punggung berjumlah ganjil, sedangkan DOC betina memilki warna bulu coklat dengan garis punggung kuning berjumlah genap. DOC jantan langsung dimasukkan ke boks sebanyak 102 ekor tanpa perlakuan apapun. DOC betina diseleksi lagi dengan kriteria bobot badan, warna bulu, kondisi fisik (mata, kaki, perut), dan kesehatan. DOC betina langsung dipotong paruhnya sepanjang 1/3 bagian dari panjang paruh, menggunakan alat debeaker. DOC yang telah diseleksi kemudian dimasukkan ke dalam boks dan dihitung jumlahnya. Setiap boks diisi 100 ekor betina ditambah 2 ekor untuk resiko transportasi.
Setelah itu DOC betina divaksin Marek’s dan NDIB. Vaksin Marek’s dilakukan sub cutan (suntik di bawah kulit leher), sedangkan vaksin NDIB melalui mata. Dosis pemberian vaksin ini 0,2 cc per ekor. Setelah divaksin, DOC disemprot dengan vitamin kemudian dikemas dan diberi label yang berisi keterangan nama perusahaan pembibit, penyeleksi (grader), jumlah DOC dalam boks, bobot DOC saat menetas dan jenis vaksin yang diberikan serta tanggal DOC menetas.
PENANGANAN LIMBAH
Jenis atau Produk Limbah yang Dihasilkan
Limbah merupakan sisa aktivitas makhluk hidup. Limbah peternakan ada dua bentuk, yaitu limbah padat dan limbah cair. Jenis limbah padat yang dihasilkan adalah berupa kotoran ayam di kandang battery, limbah kristal (kotoran ayam di kandang postal yang bercampur dengan litter), bangkai ayam, kerabang telur dan DOC afkir di unit penetasan.
Limbah cair dihasilkan dari air pencucian kandang dan peralatan, air sisa sanitasi dan sisa air minum ayam.
Penanganan Limbah
Penanganan limbah di Dony Farm adalah membuatkan saluran pembuangan berupa selokan untuk limbah cair, sedangkan untuk limbah padat berupa kotoran ayam disalurkan ke unit pengolahan limbah. Limbah kristal dimasukkan ke karung lalu dijual ke petani untuk pupuk tanaman sayur dan sebagian diolah menjadi kompos. Limbah penetasan berupa kerabang telur tidak diolah karena biaya pengolahan lebih tinggi dari nilai produk yang dihasilkan, oleh karena itu limbah kerabang dibuang atau dijadikan campuran pakan untuk itik. Limbah berupa DOC afkir dimusnahkan atau dijual untuk pakan lele.
Pengolahan Limbah
Pengolahan limbah berupa kotoran ayam berguna untuk mengurangi pencemaran terhadap lingkungan dan meningkatkan mutu dari limbah yang dihasilkan. Bentuk pengolahan limbah di Dony Farm adalah dengan pembuatan kompos. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah : limbah organik (kotoran ayam) 83%, abu 10%, serbuk gergaji (kayu lunak) 5%, kalsit 3%, dan bakteri pengurai (stardec) 0,25%. Teknik pembuatannya adalah dengan cara menumpuk kotoran ayam yang sudah dicampur dengan serbuk gergaji dan dicampur dengan bahan lain serta disusun secara berlapis. Tumpukan tersebut diaduk hingga homogen dan didiamkan dengan tumpukan minimal satu meter. Pembalikan dilakukan satu kali seminggu, selama delapan kali pembalikan kompos sudah jadi.
PEMASARAN
Pemasaran adalah usaha untuk mencari, menemukan dan mempertahankan konsumen. Strategi pemasaran yang utama adalah mencari kepuasan konsumen. Dalam sebuah peternakan, bagian produksi dan pemasaran harus seimbang, karena apabila pemasaran tidak berjalan dengan baik akan terjadi penumpukan hasil produksi. Hal ini dapat menyebabkan kerugian, mengingatsaran adalah usaha untuk mencari, menemukan dan mempertahankan konsumen. Strategi pemasaran yang utama adalah mencari kepuasan konsumen. Dalam sebuah peternakan, bagian produksi dan pemasaran harus seimbang, karena apabila pemasaran tidak berjalan dengan baik akan terjadi penumpukan hasil produksi. Hal ini dapat menyebabkan kerugian, mengingat produk peternakan mudah rusak dan mudah busuk. Oleh karena itu, peternak harus bisa memasarkan hasil produksi dan mencari pelanggan.
Bentuk Produk, Jumlah dan Harga
Produk yang dihasilkan diantaranya telur konsumsi, DOC ayam jantan dan betina final stock, pupuk kompos, ayam broiler, ayam petelur afkir dan karung bekas.
Telur konsumsi dihasilkan dari unit peternakan . Telur konsumsi juga diperoleh dari telur ayam parent stock yang tidak memenuhi kriteria telur tetas pada saat grading.
DOC dihasilkan dari unit penetasan di farm Gedangan dengan merek dagang Cakra 50. DOC jantan dan betina yang dihasilkan dijual sesuai pesanan peternak atau poultry shop dari daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. DOC betina juga sebagian dipakai untuk pengganti (replacement stock) ayam-ayam yang sudah tua. DOC jantan yang tidak ada pesanan dibesarkan oleh perusahaan.
Pupuk kompos dihasilkan dari unit pengolahan kompos. Jumlah kompos yang dihasilkan selama satu minggu rata-rata sekitar 12 ton. Harga pupuk kompos per kilogram adalah Rp. 500,00.
disadur dari http://okenews-inspirasi.blogspot.com/2012/03/pemeliharaan-ayam-ras-petelur-layer.html
A).Peme.iharaan Ayam Bibit
Pemeliharaan ayam bibit merupakan pemeliharaan ayam induk (parent stock) yang dipelihara bersama-sama pejantan. Menurut (Sudaryani dan Santosa, 2003), usaha pembibitan adalah usaha peternakan yang menghasilkan ternak untuk dipelihara lagi dan bukan untuk dikonsumsi. Pembibitan (breeding) dalam usaha peternakan ayam petelur komersial sangat penting dan sangat perlu mendapat perhatian yang khusus. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan mendapatkan kualitas DOC final stock yang bagus serta menghindari terjadinya inbreeding dalam suatu peternakan. Jika pemeliharaan ayam parent stock kurang baik berdampak buruk pada keturunan yang dihasilkan. Seperti contoh, apabila induk terserang penyakit menular maka penyakit tersebut bisa ditularkan secara vertikal pada keturunannya.
B).Strain Ayam yang Dipelihara
Pemeliharaan ayam bibit pada saat ini menggunakan strain Hy-Line Brown. Pada pemeliharaan sebelumnya Dony Farm memelihara strain Bovans Goldline dan Isa Brown. Ayam bibit strain Bovans Goldline didatangkan dari Belanda. Pemeliharaan ayam bibit strain Bovans Goldline terputus karena pada saat itu pemerintah melarang mendatangkan ayam dari negara Belanda. Pada tahun 2004, Dony Farm mendatangkan parent stock Isa Brown. Pada bulan Mei tahun 2006,
C).Persiapan Kandang dan Peralatan
Persiapan kandang membutuhkan waktu yang relatif lama karena kandang dibersihkan dan diistirahatkan. Hal ini dilakukan agar siklus penyakit terputus sebelum pemeliharaan ayam dimulai. Tahapan persiapan kandang yang dilakukan adalah penyemprotan kandang dan litter dengan obat kutu, pengangkatan litter bekas, penyemprotan kandang dengan obat kutu kembali, pencucian kandang dengan air dan deterjen, perbaikan fisik kandang, penyemprotan dengan formalin dengan dosis 5 liter per 95 liter, pemasangan chick guard dan gasolec dan memasukkan sekam.
Peralatan kandang dibersihkan agar anak ayam terhindar dari penyakit. Peralatan yang digunakan pada periode starter yaitu tempat pakan, tempat minum, koran sebagai alas, alat pemanas (gasolec) dan chick guard (lingkar pembatas).
Dalam chick guard (lingkar pembatas) dipasang sebuah gasolec pada ketinggian 1,0-1,2 meter dengan kemiringan 45°. Kapasitas satu chick guard untuk 500-750 ekor. Menurut Sudaryani dan Santoso (2004), empat jam sebelum DOC datang, pemanas sudah dinyalakan sehingga pada saat DOC datang suhu sudah stabil yaitu 35°C. Tempat pakan dan minum diletakkan di dalam chick guard yang telah dialasi koran. Tempat pakan yang digunakan yaitu feeder tray dan tempat minum berbentuk toples terbalik. Tempat pakan dan tempat minum disusun secara selang-seling dan melingkar mengikuti chick guard.
D).Perlakuan Saat DOC Datang
Pada saat DOC datang, pertama kali DOC dihitung dan dibagi ke dalam chick guard dengan jumlah yang sama. Setelah itu, kegiatan yang dilakukan adalah mengontrol suhu di daerah chick guard selama 24 jam, pemberian dan pengecekan pakan dan air minum. Pemberian air minum dilakukan dua kali sehari, sedangkan pengecekan pakan dilakukan enam kali sehari, setiap empat jam sekali.
E).Pemberian Pakan dan Minum
Pemberian pakan pada periode starter dilakukan ad libitum hingga ayam berumur tiga minggu. Hal ini bertujuan untuk memacu ayam mengkonsumsi pakan untuk menunjang perkembangan organ-organ tubuhnya. Menurut Rasyaf (1995), pada masa ini bagian-bagian tubuh unggas tumbuh pesat, terutama bagian-bagian tubuh utama, jaringan daging, organ tubuh, bulu dan tulang.
Pemberian minum untuk periode starter dilakukan ad libitum dengan penambahan vitamin dan antibiotik. (Sudaryani dan Santosa, 2003), pemberian obat anti stress melalui air minum bertujuan untuk meringankan cekaman pada anak ayam. Tempat minum yang digunakan berbentuk toples terbalik.
F).Program Pencahayaan
Pemberian cahaya pada periode starter bertujuan agar ayam dapat mengenal lingkungannya dengan baik untuk memacu pertumbuhan.
Setelah ayam berumur 15 minggu lama pencahayaan hanya 12 jam per hari atau pencahayaan hanya berasal dari sinar matahari (natural light). Malam hari tidak ada penambahan cahaya. Tujuannya yaitu menghambat dewasa kelamin dini dan mencegah ayam kegemukan dengan mengurangi waktu makan ayam. Pada umur 15-17 minggu dilakukan sistem black out atau ruangan dibuat setengah gelap untuk mengontrol hormon reproduksi, sehingga diperoleh kematangan organ reproduksi yang serentak.
Penimbangan
Penimbangan ayam dilakukan setiap minggu secara acak dengan sampel 10% dari populasi ayam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2003), bahwa penimbangan dilakukan secara acak dengan jumlah sampel lebih kurang 10% dari populasi ayam. Penimbangan dilakukan sebelum ayam diberi makan.
Tujuan penimbangan adalah untuk mengetahui bobot badan anak ayam sehingga pengontrolan bobot badan dan tingkat keseragaman ayam pada periode starter dapat dicapai. Anak ayam yang bobot badan kecil dan lemah dipisah pada brooder yang berbeda untuk diberi perlakuan yang intensif.
Pemotongan Paruh
Pemotongan paruh dilakukan pada anak ayam umur 10 hari. Sudaryani dan Santosa (2003) menyatakan bahwa keuntungan pemotongan paruh pada ayam umur muda adalah ayam mudah dipegang, dapat mengurangi pendarahan dan cekaman serta daya hidup anak ayam lebih baik. Tujuan pemotongan paruh adalah menghilangkan sifat kanibal, efisiensi pakan dan memacu pertumbuhan.
Paruh dipotong hingga sepertiga bagian dengan menggunakan electric debeaker. Sebelum pemotongan paruh, DOC diberi vitamin K dan antibiotik melalui air minum. Setelah pemotongan paruh, DOC dipuasakan minum selama dua jam dan pakan lima jam. Tujuan pemuasaan ini agar tidak tidak terjadi pendarahan pada mulut ayam.
BIOSECURITY PADA AYAM PETELUR.
Pengendalian atau pencegahan penyakit adalah suatu tindakan untuk melindungi individu terhadap serangan penyakit atau menurunkan keganasannya. Pengendalian atau pencegahan penyakit pada pemeliharaan ayam pembibit petelur sangat penting sehingga dapat mengatasi atau mencegah terjadinya penularan penyakit ataupun timbulnya penyakit. Pemeliharaan kesehatan unggas merupakan bagian integral dari usaha peningkatan produksi ternak. Produktivitas dan reproduktivitas ternak hanya dapat dicapai secara optimal apabila ternak dalam keadaan sehat. Oleh sebab itu pemeliharaan kesehatan ternak merupakan salah satu syarat tercapainya target produksi yang optimal. Program pencegahan penyakit yang dilakukan di Dony Farm antara lain melakukan biosekuriti yang ketat, sanitasi dan vaksinasi
Biosekuriti
Program biosecurity yaitu upaya untuk menjadikan suatu kawasan Peternakan terbebas dari bibit penyakit (mikroorganisme pathogen) dari reservoir atau vektor pembawanya.
Pintu gerbang suatu peternakan adalah tempat pertama bagi orang yang mau masuk ke areal atau komplek peternakan dan merupakan titik awal keberhasilan suatu peternakan terbebas dari wabah atau serangan penyakit. mengkondisikan setiap orang maupun kendaraan tidak sembarangan keluar masuk Farm, dan pintu selalu dijaga ketat oleh petugas. Pada breeding farm dan hatchery selalu dalam keadaan terkunci. Tidak setiap kendaraan atau orang bisa masuk ke kawasan farm demi terlaksananya program pencegahan penyakit. Sebelum masuk ke area breeding farm (di depan pos keamanan), setiap kendaraan dan pengunjung/staf/karyawan harus melewati area penyemprotan dengan desinfektan. Sebelum masuk ke area hatchery, setiap karyawan/staf/pengunjung diwajibkan mengganti pakaian dan disemprot dengan desinfektan. Desinfektan yang digunakan adalah BKC atau long life dengan dosis ringan yaitu 1cc/liter air. Tujuan penggunaan desinfektan ini adalah untuk membunuh mikroorganisme patogen yang mungkin terbawa oleh kendaraan, karyawan/staf/pengunjung.
Biosekuriti yang dilakukan meliputi penyemprotan kendaraan, karyawan/staf/pengunjung dengan desinfektan long life dengan dosis 1 cc/liter air di depan pos jaga keamanan. Berikutnya dilakukan penyemprotan terhadap karyawan/staf/pengunjung yang akan masuk ke area perkantoran yaitu di sebelah kantor feed mill dengan desifektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Kemudian, sebelum masuk ke area kandang yaitu di sebelah kantor departemen produksi, setiap karyawan/staf/pengunjung disarankan untuk mengganti pakaian rumah dengan pakaian kerja/pakaian yang bersih sebelum disemprot lagi dengan desinfektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Selain aitu, di sebagian kandang disediakan untuk mencelup kaki (dipping foot) dan tangan (dipping hand) sebelum masuk ke dalam kandang dan menangani ternak. Desinfektan yang digunakan untuk mencelup kaki dan tangan adalah long life dengan dosis 1cc/liter air. Biosekuriti yang sama dilakukan juga .
a).Sanitasi Kandang dan Sekitarnya
Sanitasi adalah program di suatu kawasan Peternakan yang bertujuan untuk menjaga terjadinya perpindahan bibit penyakit menular sehingga ternak yang dipelihara terbebas dari infeksi bibit penyakit serta selalu dalam kondisi sehat. Program sanitasi yang dilakukan di breeding farm dan hatchery dengan melakukan penyemprotan kandang 1 kali dalam sehari, menggunakan larutan desinfektan TH-4 atau BIODES dosis yaitu 5cc untuk 1 liter air. Frekuensi dari penyemprotan ini ditingkatkan jika ada kemungkinan terjangkit penyakit. Penyemprotan yang kedua dilakukan di lingkungan sekitar kandang yaitu satu kali dalam satu minggu menggunakan desinfektan jenis long live atau BKC dengan dosis 1cc/liter air. Penyemprotan seperti ini dilakukan secara rutin kecuali saat tertentu, misalnya dilakukan vaksinasi.
Selain penyemprotan dengan menggunakan larutan desinfektan, juga dilakukan proses karantina ayam yang sudah terindikasi terserang penyakit, atau memusnahkannya. Lalu lalang dan perpindahan karyawan atau peralatan kandang dibatasi, binatang liar beserta sarangnya yang memungkinkan berpindah sebagai vector dari mikroorganisme penyebab penyakit dibasmi dengan racun tikus.
Hal lain yang dilakukan adalah menghindari pemeliharaan ayam dengan umur yang beragam dalam satu flok, menjaga kebersihan kandang, peralatan dan daerah sekitarnya, menjaga litter dalam kandang agar tetap kering, menjaga ventilasi dan aliran udara dalam kandang agar selalu dalam keadaan baik.
b).Sanitasi pada Hatchery
Program sanitasi yang dilakukan pada hatchery adalah membersihkan kendaraan dan peralatan yang dipakai pada saat membawa telur tetas dengan desinfektan agar dalam kondisi bebas dari organisme patogen pembawa penyakit. Desinfektan yang digunakan adalah jenis TH-4 atau BIODES dengan dosis 1cc/liter air. Telur tetas setelah terkumpul, sebelum dibawa ke hatchery terlebih dahulu difumigasi dengan menggunakan formalin 40% sebanyak 240 cc dengan 96 g forcen/PK untuk 8 m3 ruangan. Hal ini dimaksudkan agar telur yang baru diperoleh dari kandang bebas penyakit atau bakteri sebelum masuk ruang penyimpanan telur (cooling room).
Setelah kegiatan full chick, semua peralatan dan bagian ruangan disemprot dengan air bertekanan tinggi. Setelah itu dilakukan desinfeksi ruangan hatchery menggunakan desinfektan long live dengan dosis 5cc/liter air. Hal ini bertujuan untuk membunuh mikroorganisme patogen yang ada di lingkungan dan sekitar bagian ruangan hatchery.
c).Penanganan Ayam Mati
Penanganan ayam mati dan kotoran ayam penting artinya dalam usaha pengendalian kesehatan ayam. Apabila pengguanannya sudah benar maka dampaknya bagi kesehatan ayam yang dipelihara akan terlihat jelas begitu pula sebaliknya, apabila salah dalam penanganannya akan sangat membahayakan kesehatan ternak. Ayam mati merupakan salah satu sumber penyakit dan pencemaran lingkungan.
Pada breeding farm Hatchery dilakukan penanganan sebagai berikut, mengumpulkan ayam-ayam mati dari setiap kandang, melakukan usaha pembakaran ayam mati yang disebabkan penyakit berbahaya atau terinfeksi, melakukan penguburan ayam-ayam mati ke dalam lubang khusus yang disediakan atau bila perlu dilakukan pencelupan dengan desinfektan.
d).Program Vaksinasi
Program pengendalian kesehatan ayam selanjutnya adalah program vaksinasi. Program ini adalah program yang paling sering digunakan dalam mencegah timbulnya penyakit di suatu kawasan peternakan. Program vaksinasi dalam suatu peternakan tidak selalu bersifat statis tapi dinamis. Artinya, tidak baku antara satu perternakan dengan peternakan lainnya, tidak hanya jenis vaksin yang digunakan tetapi program vaksinasinya pun beragam. Biasanya program vaksinasi ini disesuaikan dengan kasus penyakit yang pernah terjadi. Menurut (Wiharto. 1986), bahwa vaksinasi merupakan salah satu diantara berbagai cara yang efektif untuk melindungi individu terhadap serangan berbagai macam jenis penyakit tertentu.
Pencegahan penyakit melalui program vaksinasi pada Dony Farm diaplikasikan dengan sangat ketat. Jenis vaksin yang digunakan terdiri dari vaksin live dan vaksin kill yang diperoleh dari Intervet, Medion dan yang lainnya sebagai produsen dan SHS, Vaksindo sebagai suplemennya. Pemberian Vaksin ini berfungsi untuk mendapatkan kekebalan untuk jangka waktu tertentu. Kegiatan revaksinasi oleh Dony Farm dilakukan satu sampai dua minggu sebelum kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin di dalam tubuh sampai batas minimum. Hal ini dimaksudkan agar anti bodi selalu ada dalam tubuh ayam.
Dalam melakukan vaksinasi ada beberapa faktor yang dicatat yaitu tanggal pelaksanaan vaksinasi, nama perusahaan dan nomer seri vaksin untuk mengontrol hasil vaksinasi dan administrasi serta memudahkan komplain jika ada masalah dengan vaksin. Nama vaksinator juga dicatat untuk menelusuri bila terjadi kegagalan dalam vaksinasi. Faktor lain yang dilakukan adalah menghindari vaktor yang bisa mematikan vaksin, seperti sinar matahari langsung, panas seperti yang ditimbulkan dari deterjen, bara rokok, desinfektan dan pencampuran vaksin yang tidak benar. Selain itu, vaksinasi dilakukan sesuai dengan prosedur dan penyimpanan vaksin sesuai dengan rekomendasi produsen.
Dalam prosedur vaksinasi yang diperhatikan diantaranya memberikan vitamin dan anti stres pada ayam sebelum dan sesudah dilaksanakannya vaksinasi/ tergantung dari kondisi ayam. Setelah selesai vaksinasi, bekas vaksin dimusnahkan dan peralatan yang digunakan selama vaksinasi segera dibersihkan dan direbus.
e).Menghindari Stres
Stres adalah kondisi tubuh yang mengalami gangguan hormonal secara temporer. Adanya stres pada ayam dapat mempermudah kemungkinan terkena penyakit menular. Akibat-akibat yang timbul bila stres diantaranya dehidrasi sebagai akibat pembakaran dalam tubuh yang meningkat, menyebabkan air serta garam mineral (elektrolit) tubuh banyak terbuang. Hal tersebut menyebabkan nafsu makan berkurang, sehingga asimilasi vitamin terganggu, pertumbuhan terganggu dan badan menjadi lemah sehingga mudah terserang penyakit. (Sudaryani dan Santosa, 2003)
Untuk mencegah terjadinya stres, kegiatan-kegiatan adalah selalu memberikan vitamin dan elektrolit jika terjadi suatu hal yang membuat ayam stres, misalnya sebelum dan sesudah vaksinasi, operator kandang diberi pengarahan dan selalu diingatkan untuk tidak melakukan perlakuan kasar selama pemeliharaan. Selain itu, kandang dijaga supaya selalu dalam keadaan tenang dan menghindari suara gaduh yang dapat menimbulkan stres pada ayam. Demikian juga lingkungan di sekitar kandang diusahakan tetap stabil, seperti perubahan temperatur dengan cara membuka dan menutup tirai sesuai kondisi dalam kandang. Hal lain yang dilakukan adalah menempatkan peralatan kandang dengan tepat dan jumlahnya memadai, aktivitas sehari-hari dan petugas tidak berubah secara mendadak dan menghindari akumulasi tingginya gas amoniak dengan menggunakan kipas.
f).Program Pengobatan
Program pengobatan dilakukan pada saat keadaan ayam sudah terditeksi secara dini terkena suatu penyakit. Hal ini dilakukan untuk mencegah sulitnya program pengobatan karena pengobatan membutuhkan waktu lama dan memakan biaya yang mahal.
Untuk menentukan jenis obat yang akan diberikan, terlebih dahulu harus diketahui jenis penyakit yang menyerang. Untuk itu dilakukan diagnosa penyakit dengan langkah-langkah sebagai berikut: menentukan bahwa suatu peternakan ada kasus, mendapatkan keterangan peternak tentang sejarah kelompok ayam dan peternakan, pemeriksaan di peternakan termasuk post mortem, pengambilan dan pengiriman material untuk pemeriksaan laboratorium.
g).Tata Laksana Pemeliharaan
Faktor manajeman pemeliharaan yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap keseharan ayam tersebut diantaranya adalah kualitas bibit, sistem pemeliharaan, kandang dan peralatan. .
Kualitas bibit yang baik akan menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan. Bibit ayam dipilih dari sumber yang diyakini bebas dari berbagai penyakit dan kualitas bibitnya baik sesuai dengan standar setiap strain.
Sistem pemeliharaan dilakukan sesuai dengan rekomendasi penghasil bibit, seperti memelihara ayam satu umur dalam satu flok. Ayam dipelihara dari umur satu hari sampai diafkir berada dalam satu kandang (all in all out). Kandang dan peralatan selalu bersih. Kandang dan peralatan yang kotor dapat bertindak sebagai media yang baik bagi mikroorganisme patogen untuk berkembang biak dan akan bertindak sebagai media dalam penularan penyakit.
Tes Darah
Tes darah merupakan salah satu program penunjang untuk mengontrol jenis penyakit di kawasan usaha peternakan ayam. Program ini dijalankan secara teratur dan terjadwal. Penyakit yang bisa dideteksi tes darah adalah penyakit yang disebabkan oleh pullorum, thypoid, mycoplasma. Tes darah juga bisa untuk mengetahui tingkat titer anti bodi ayam yang berhubungan erat dengan program vaksinasi yang sedang dijalankan.
Evaluasi Keberhasilan Program Pencegahan Penyakit
Selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap keberhasilan pemeliharaan ayam komersial dan ayam parent stock. Evaluasi ini didasarkan pada perhitungn tingkat kematian (mortalitas), efisiensi pakan dan produksi telur.
Tingkat keberhasilan program pencegahan penyakit dan sanitasi juga dievaluasi melalui produksi telur yang dikeluarkan perusahaan pembibit ayam tersebut. Langkah yang dilakukan ini sesuai yang diungkapkan Wiharto (1986), bahwa produksi telur dilakukan untuk membandingkan tingkat produksi telur ayam secara kasar dengan tingkat dasar (standar) ayam tersebut, yang dikeluarkan oleh pihak peruhsahaan pembibit sebagai evaluasi dalam pelaksanaan program pencegahan penyakit ayam.
1).PENETASAN
Pengelolaan penetasan dilakukan di unit hatchery. Kegiatan yang dilakukan pada unit hatchery antara lain penanganan telur sebelum ditetaskan, proses penetasan, pull chick (penurunan DOC).
a).Penanganan Telur Sebelum Ditetaskan Grading (Seleksi Telur)
Tahap awal dari proses penetasan dimulai dari penyeleksian telur (grading). Menurut Sudaryani dan Santoso (2003), tujuan seleksi telur tetas adalah untuk mendapatkan anak ayam yang sesuai dengan yang diharapkan.
Kriteria telur yang baik untuk ditetaskan (Hatching Egg) adalah telur utuh dan bersih, bobot telur 55-70 gram, bentuk telur normal dengan indeks 74%, ketebalan kerabang 0,33 mm (Rasyaf, M. 1995). Telur yang tidak masuk ke dalam kriteria telur tetas dimasukkan ke dalam gudang telur untuk dijual sebagai telur konsumsi.
Telur yang lolos seleksi ditempatkan di egg tray.
b).Fumigasi Telur Tetas Telur tetas yang telah lolos seleksi kemudian dimasukkan ke dalam ruang fumigasi berukuran 3 m x 2,5 m x 3 m. Fumigasi dilakukan selama 20 menit dengan dosis 280 g KMnO4 dan 560 ml formalin 40%. Menurut Sudaryani dan Santosa (2003), fumigasi dilakukan untuk membunuh kuman penyakit.
c).Penyimpanan Telur Telur yang telah difumigasi disimpan di cooling room. Cooling room merupakan ruangan khusus untuk menyimpan telur tetas sebelum dimasukkan ke setter. Suhu dan kelembaban ruangan penyimpanan diatur sehingga embrio tidak berkembang. Tujuan utama penyimpanan telur tetas adalah menunggu sampai jumlah telur yang ingin ditetaskan tercapai. Lama penyimpanan telur tetas berkisar 3-4 hari pada suhu 20 oC dan kelembaban 70%-80%. Penyimpanan telur tetas yang terlalu lama dapat mempengaruhi daya tetas telur.
e).Proses Penetasan Pre Warming
Setelah jumlah telur yang akan ditetaskan terpenuhi, maka telur tetas dikeluarkan dari cooling room menuju setter. Akibat jauhnya perbedaan suhu antara cooling room dengan setter, maka perlu adanya penyesuaian suhu agar embrio yang ada di dalam telur tidak mengalami cekaman. Proses penyesuaian suhu tersebut disebut pre warming. Lamanya proses pre warming didasarkan pada ketebalan kerabang telur.
Setter
Telur dari pre warming dimasukkan ke dalam ruang setter (ruang inkubator). Telur disetting berdasarkan kandang, kualitas telur, dan umur induk ayam. Suhu ruang setter 37,5 oC dan kelembaban 55%. Pemutaran telur tetas di dalam setter dilakukan selama 18 hari dengan frekuensi pemutaran satu jam sekali. Sudut pemutaran telur 90 o dan kemiringan 45o. Bila telur tidak diputar, maka kuning telur akan melekat pada satu sisi kerabang telur dan berakibat pada kematian embrio. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudaryani dan Santosa (2003), bahwa telur tetas harus diputar setiap jam untuk menjaga embrio agar tidak menempel pada kerabang telur.
f).Transfer Telur Tetas dan Candling Transfer adalah proses pemindahan telur tetas dari setter ke hatcher saat umur embrio 18 hari. Sebelum masuk ke mesin hatcher, terlebih dahulu dilakukan candling (peneropongan). Candling dilakukan untuk memisahkan telur yang fertil, infertil dan explode. Menurut Nuryati dkk (2003), telur explode disebabkan telur terkontaminasi bakteri, kotor, pencucian telur kurang baik dan mesin tetas kotor.
Transfer telur tetas dan candling dilakukan dengan cepat, maksimal 30 menit karena embrio dapat mati akibat perubahan suhu telur yang drastis. Telur yang sudah diteropong dipindahkan ke kereta buggy hatcher yang berbentuk keranjang.
Hatcher
Telur yang lolos pada saat candling kemudian dimasukkan ke dalam mesin hatcher selama tiga hari. Selama berada di hatcher tidak dilakukan pemutaran telur karena pada periode ini akan terjadi pipping (anak ayam berusaha memecah kerabang dengan paruhnya).
Pengaturan suhu dan kelembaban dilakukan berdasarkan keadaan telur. Suhu dalam hatcher sekitar 37-38 oC. Kelembaban hatcher sebelum pipping sekitar 55% dan saat pipping kelembaban dinaikkan menjadi 70%-75%. Kelembaban yang tinggi dapat membantu proses pipping. Saat telur menetas (setelah pipping) kelembaban diturunkan kembali menjadi 52%-55% dan suhu dalam keadaan lebih rendah dari 37 oC untuk membantu proses pengeringan bulu DOC.
g).Pull Chick (Penurunan DOC) Pull chick adalah kegiatan menurunkan DOC dari mesin hatcher, termasuk sexing DOC (pemisahan DOC jantan dan betina), seleksi sambil memasukkan DOC ke dalam boks. Sexing dilakukan berdasarkan warna bulu. DOC jantan memiliki warna bulu kuning dan garis punggung berjumlah ganjil, sedangkan DOC betina memilki warna bulu coklat dengan garis punggung kuning berjumlah genap. DOC jantan langsung dimasukkan ke boks sebanyak 102 ekor tanpa perlakuan apapun. DOC betina diseleksi lagi dengan kriteria bobot badan, warna bulu, kondisi fisik (mata, kaki, perut), dan kesehatan. DOC betina langsung dipotong paruhnya sepanjang 1/3 bagian dari panjang paruh, menggunakan alat debeaker. DOC yang telah diseleksi kemudian dimasukkan ke dalam boks dan dihitung jumlahnya. Setiap boks diisi 100 ekor betina ditambah 2 ekor untuk resiko transportasi.
Setelah itu DOC betina divaksin Marek’s dan NDIB. Vaksin Marek’s dilakukan sub cutan (suntik di bawah kulit leher), sedangkan vaksin NDIB melalui mata. Dosis pemberian vaksin ini 0,2 cc per ekor. Setelah divaksin, DOC disemprot dengan vitamin kemudian dikemas dan diberi label yang berisi keterangan nama perusahaan pembibit, penyeleksi (grader), jumlah DOC dalam boks, bobot DOC saat menetas dan jenis vaksin yang diberikan serta tanggal DOC menetas.
PENANGANAN LIMBAH
Jenis atau Produk Limbah yang Dihasilkan
Limbah merupakan sisa aktivitas makhluk hidup. Limbah peternakan ada dua bentuk, yaitu limbah padat dan limbah cair. Jenis limbah padat yang dihasilkan adalah berupa kotoran ayam di kandang battery, limbah kristal (kotoran ayam di kandang postal yang bercampur dengan litter), bangkai ayam, kerabang telur dan DOC afkir di unit penetasan.
Limbah cair dihasilkan dari air pencucian kandang dan peralatan, air sisa sanitasi dan sisa air minum ayam.
Penanganan Limbah
Penanganan limbah di Dony Farm adalah membuatkan saluran pembuangan berupa selokan untuk limbah cair, sedangkan untuk limbah padat berupa kotoran ayam disalurkan ke unit pengolahan limbah. Limbah kristal dimasukkan ke karung lalu dijual ke petani untuk pupuk tanaman sayur dan sebagian diolah menjadi kompos. Limbah penetasan berupa kerabang telur tidak diolah karena biaya pengolahan lebih tinggi dari nilai produk yang dihasilkan, oleh karena itu limbah kerabang dibuang atau dijadikan campuran pakan untuk itik. Limbah berupa DOC afkir dimusnahkan atau dijual untuk pakan lele.
Pengolahan Limbah
Pengolahan limbah berupa kotoran ayam berguna untuk mengurangi pencemaran terhadap lingkungan dan meningkatkan mutu dari limbah yang dihasilkan. Bentuk pengolahan limbah di Dony Farm adalah dengan pembuatan kompos. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah : limbah organik (kotoran ayam) 83%, abu 10%, serbuk gergaji (kayu lunak) 5%, kalsit 3%, dan bakteri pengurai (stardec) 0,25%. Teknik pembuatannya adalah dengan cara menumpuk kotoran ayam yang sudah dicampur dengan serbuk gergaji dan dicampur dengan bahan lain serta disusun secara berlapis. Tumpukan tersebut diaduk hingga homogen dan didiamkan dengan tumpukan minimal satu meter. Pembalikan dilakukan satu kali seminggu, selama delapan kali pembalikan kompos sudah jadi.
PEMASARAN
Pemasaran adalah usaha untuk mencari, menemukan dan mempertahankan konsumen. Strategi pemasaran yang utama adalah mencari kepuasan konsumen. Dalam sebuah peternakan, bagian produksi dan pemasaran harus seimbang, karena apabila pemasaran tidak berjalan dengan baik akan terjadi penumpukan hasil produksi. Hal ini dapat menyebabkan kerugian, mengingatsaran adalah usaha untuk mencari, menemukan dan mempertahankan konsumen. Strategi pemasaran yang utama adalah mencari kepuasan konsumen. Dalam sebuah peternakan, bagian produksi dan pemasaran harus seimbang, karena apabila pemasaran tidak berjalan dengan baik akan terjadi penumpukan hasil produksi. Hal ini dapat menyebabkan kerugian, mengingat produk peternakan mudah rusak dan mudah busuk. Oleh karena itu, peternak harus bisa memasarkan hasil produksi dan mencari pelanggan.
Bentuk Produk, Jumlah dan Harga
Produk yang dihasilkan diantaranya telur konsumsi, DOC ayam jantan dan betina final stock, pupuk kompos, ayam broiler, ayam petelur afkir dan karung bekas.
Telur konsumsi dihasilkan dari unit peternakan . Telur konsumsi juga diperoleh dari telur ayam parent stock yang tidak memenuhi kriteria telur tetas pada saat grading.
DOC dihasilkan dari unit penetasan di farm Gedangan dengan merek dagang Cakra 50. DOC jantan dan betina yang dihasilkan dijual sesuai pesanan peternak atau poultry shop dari daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. DOC betina juga sebagian dipakai untuk pengganti (replacement stock) ayam-ayam yang sudah tua. DOC jantan yang tidak ada pesanan dibesarkan oleh perusahaan.
Pupuk kompos dihasilkan dari unit pengolahan kompos. Jumlah kompos yang dihasilkan selama satu minggu rata-rata sekitar 12 ton. Harga pupuk kompos per kilogram adalah Rp. 500,00.
disadur dari http://okenews-inspirasi.blogspot.com/2012/03/pemeliharaan-ayam-ras-petelur-layer.html
Langganan:
Komentar (Atom)








